keatas
Informasi dari webmaster tool Google: tindakan halaman di nonaktifkan untuk sementara, ...Does it means parmanent? .....NO...! It is being temporary!...Oh..feel like my site subjectly to be suspended......ok, hanya sementara ya...katanya sih sedang maintenance selama seminggu...halaman tetap di crawl kok.

APAKAH KITA SEDANG MENERIMA KONDISI KEKEBALAN MASSAL?

 Mata netizen sedang tertuju mengejar detail Herd Immunity dari berbagai sumber, khususnya perihal penerapan "herd immnunity" alias "kekebalan Massal", Kita berhak tahu gambaran dan faktanya yang mengerikan jika menyangkut kematian sebelum ajal.

pakai masker nak

Lihat saja kondisi di Indonesia yang terpaksa menerima keadaan ini dengan segala keterbatasan  pemerintah , plus perilaku dan kebiasaan kita sendiri yang tidak mau berdisiplin. Namun juga karena juga karena kita tidak memiliki keasadaran kolektif bagaimana kesabaran pada saat sekarang bisa membantu hidup kita di masa depan.
Saya, terutama merasa sangat cemas, terutama beberapa bulan yang lalu pada saat membaca bagaimana Inggris dan Belanda sedang mempertimbangkan alternatif ketiga yang terkenal dengan sebutan 'Kekebalan Massal' tersebut, di samping itu saya juga terus mengikuti bagaimana para Ilmuwan menentang alternatif ini. Lalu apakah sebenarnnya kekebalan massal itu?

Yakni Pendekatan 'herd immunity' sudah disampaikan oleh Sir Patrick Vallance, penasehat utama bidang sains pemerintah Inggris. Dalam wawancara tanggal 13 Maret lalu, Sir Patrick mengatakan salah satu hal penting yang dapat di lakukan oleh kerajaan Inggris adalah membangun kekebalan massal.

Menurut Sir Patrik, dengan banyak warga yang kebal terhadap virus tersebut, warga tidak bisa menyebarkan virus tersebut lagi. Tujuannya adalah memperlambat penyebaran infeksi semaksimal mungkin, dan membangun semacam kekebalan di kalangan masyarakat," kata Anders Tegnell, kepala bidang penyakit menular Swedia. Dan untuk mencapai hal tersebut satu satunya cara adalah membiarkan warganya terinfeksi virus corona!

Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte mengatakan 'lockdown' mungkin tidak akan efektif di negaranya. Dia mengatakan Belanda akan melakukan kontrol terhadap penyebaran COVID-19 di kalangan warga yang paling beresiko bila terkena virus paling mematikan ini.

Kekebalan massal artinya sebagian penduduk atau: lebih separo populasi penduduk akan terkena sebuah penyakit dan kemudian mereka sembuh dan menjadi kebal karenanya. Dengan itu penyebaran menjadi berkurang karena semakin sedikit mereka yang terinfeksi oleh virus tersebut. Benarkah demikian teorinya? Maafkan jikalau saya salah.

Ini dianggap sebagai salah satu cara memerangi pademik, selain dengan memisahkan orang per orang, melakukan testing dan melacak pergerakan orang dan juga membuat vaksin.

Para sejarawan (bukan ilmuwan) mengatakan gelombang kedua pandemik flu di Spanyol di tahun 1918 menimbulkan korban paling besar, karena ketika di gelombang pertama hanya sedikit orang yang memiliki kekebalan.

Untungnya kedua negara yang saya sebutkan diatas jauh jauh hari karena melihat fakta itu telah menepis dan mencabut ide gila tersebut.

ILMUWAN MENGECAM TEORI TERSEBUT

Selain Cina, Jepang juga tampak tidak 'setuju' dengan teori ini yang menurut Ilmuwan sangat berbahaya dan dapat mengorbankan populasi manusia secara massal. Para Ilmuwan Jepang menyatakan tidak ada bukti bahwa korban yang terinfeksi dan kemudian sembuh menjadi kebal terhadap penyakit corona. Pihak berwenang Jepang mengatakan tanggal 16 Maret lalu bahwa seorang pria yang sudah dites positif COVID-19 sebelumnya, kemudian terjangkit lagi beberapa minggu kemudian. Oke tarohlah pengujiannya itu salah.

Akan tetapi seorang pria yang terkena virus di kapal pesiar Diamond Princess yang telah dinyatakan sembuh dilaporkan terkena lagi beberapa minggu kemudian. Diego Silva, dosen ilmu bioetika di University of Sydney bahkan telah mengatakan sampai sekarang masih banyak yang belum mengetahui mengenai virus tersebut dan bagaimana reaksi tubuh kita. 

Bagaimana jika virus ini ternyata memiliki fitur dan kemampuan beradaptasi jauh melebihi kemampuan daya tahan manusia, bagaimana mungkin menjadikan begitu banyak manusia sebagai kelinci percobaan?

FITUR BARU VIRUS CORONA YANG BARU DI KETAHUI

Ada penemuan baru pada orang orang yang telah terinfeksi, tanpa mereka menyadarinya yakni walaupun mereka tidak merasa telah terinfeksi namun mereka kehilangan indera penciuman dan indera pengecapan.

Lalu pada penelitian orang orang yang telah sembuh di dapatkan bahwa fungsi paru paru mereka melemah dan menghilang sebagian. Kasus ini masih dalam penelitian lebih lanjut.

MENGAPA HARUS MEMILIH ALTERNATIF KEKEBALAN MASSAL?

Karena Eropa pasti berbeda dengan Cina. Cina dapat melakukan lock down dengan keras dan tegas. Orang orang cina mematuhi pemimpin mereka. Lock down di Cina sangat berbeda dengan Lock down di Italia. Di Italia kenderaan dan sebagian orang orang tetap berkeliaran demikian fakta yang membuat 300 orang tenaga medis Cina di Italia menjadi kebingungan. Apa yang terjadi di Italia adalah gambaran apa yang akan terjadi di Eropa pada saat mengatasi virus corona.

Dan Cina sukses. Dari penyebar melapataka menjadi peneyelamat dunia. Tampak Italia menjadi sangat buruk. Dan seluruh Eropa kini di landa kecemasan, itulah sebabnya memilih alternatif 'kekebalan massal' tampak masuk akal.

Namun Cina mengecam dan mengatakan Ide tersebut sebagai ujud pelaksanaan Darwinisme yang sangat mengerikan terhadap umat manusia. Mengapa harus memberikan risiko dan perjudian maut kepada manusia? Bukankah cara lockdown Cina terbukti ampuh mengatasi virus corona? Mengapa mereka terlihat begitu putus asa. 

Dan sebagai tanggapan atas penolakan penolakan ini, pihak berwenang Inggis telah memberikan pernyataan tidak akan mengambil 'risiko' ini.

PENDAPAT SAYA ORANG AWAM: TERLALU KEJAM.

kalau di baca dari referensinya, praktiknya sih akan seperti ini: Yakni dengan mengorbankan lebih separoh populasi penduduk demi untuk mendapatkan kekebalan pada generasi berikutnya. Itulah sebabnya Cina mencela keras hal tersebut dan menyebutnya sebagai "mempraktikan Darwinisme terhadap manusia". Berkaca dari kasus pandemik flu di Spanyol di tahun 1918 menimbulkan korban paling besar, karena ketika di gelombang pertama hanya sedikit orang yang memiliki kekebalan. Hanya pada generasi berikutnya terbentuk kekebalan tersebut.

Sangat jelas jika hal tersebut di praktikan, korban pada kasus virus corona pada orang orang berusia tua generasi pertama tidak akan dapat di hindari. Hal ini akan mendatangkan gelombang kejut berupa dampak sosial yang tidak kecil: Satu generasi anak anak yang mungkin selamat akan  kehilangan tumpuan hidup: Kehilangan cinta dari orang orang tua yang telah pergi. Dunia akan terluka sangat lama.

Disamping Cina yang dengan tegas menolak ide tersebut, itu pula sebabnya Jepang tampak memasang wajah sangat keberatan.

Karena Jika usaha Cina di Wuhan tampak memberikan hasil mengapa memilih praktik yang tampak sangat tidak manusiawi itu? Mengapa tidak memilih cara yang sudah terbukti sukses seperti di tunjukan di Korea Selatan dan Jepang?

Karena saya bukan ahli virus samasekali saya berfikir untung dan ruginya saja dengan sedikit seuzon, saya berharap pemerintah Indonesia tidak akan menerapkan teori 'kekebalan massal' ini yang secara teoritis memang saya akui tampak masuk akal.

Apalagi jika idenya berasal dari benua biru yang maju tempat teori Darwin di lahirkan, akan lebih banyak terlontar ide gila dari manusia untuk mengontrol dan meminimalisir jumlah populasi manusia dengan meminjam bencana wabah ini.

Karena tidak akan berlaku hukum jangka panjang yang berimplikasi terhadap manusia pengambil keputusan seperti kejahatan perang, pembantaian dan ide keluarga berencana. Siapa juga yang akan dijatuhi hukuman karena 'tidak berdaya' dalam mengatasi wabah, bukan?

Ketika wabah flu membunuh jutaan orang seratus tahun lalu di Spanyol dan dengan cepat menjangikiti dunia, puluhan juta orang meninggal, harus diakui, dunia menjadi bersih dari polusi  pada waktu itu, populasi menjadi 'longgar' untuk sementara. Dunia seolah dapat bernafas lebih longgar setelahnya.

Dan tidak ada tuntutan PBB untuk kejahatan 'pembantaian' umat manusia atas tuduhan 'menghilangkan' nyawa manusia. Generasi baru lahir dengan sistem kekebalan tubuh yang baru. Seolah dengan cara demikian alam memperbaiki kesalahannya. Yakni membuang yang lebih lemah (teori Darwin - seleksi Alam) dan membiarkan hidup yang dapat bertahan.

Sejauh ini wabah serupa corona (pademi) memang tercatat dalam rentang setiap seratus tahun dan dalam rentang waktu tersebut tampaknya selalu menemukan siklusnya.

Akan tetapi, lihatlah betapa putus asanya wajah Eropa pada saat ini. Mereka tidak yakin dapat menerapkan apa yang telah di praktikan oleh negara Asia seperti Cina.

Sebagai negara negara yang tergabung dalama ikatan NATO mereka tidak berdaya dan hanya membiarkan Cina dan Russia mengirimkan bantuan dengan armada militer mereka memasuki Italia. Yakni dua negara yang selama ini adalah "Musuh-musuh tradisional" mereka semenjak perang dunia kedua.

Sedangkan terkait dengan gagasan 'kekebelan massal' saya sangat keberatan karena:
  • Seperti berjudi dengan nyawa manusia, bagaimana jika teori itu gagal? Bukankah sama saja dengan membiarkan rakyat terbunuh satu demi satu tanpa berbuat apa apa alias membiarkan saja?
  • Sebagai orang awam saya kuatir bahwa virus corona membawa fitur fitur tersembunyi yang belum sepenuhnya kita pelajari. Jika kemampuan mereka beradaptasi, bermutasi dan berkembang melebihi kemampuan manusia dalam membangun imunitas secara alami (seperti tersirat dalam gagasan kekebalan massal) bukankah manusia akan pacundang karena mengambil risiko ini?
  • Jika cara cara yang telah ada dan telah dilakukan seperti yang telah di terapkan di Wuhan oleh Cina dan cara yang dilakukan oleh Jepang dan Korea terbukti berhasil, mengapa memilih cara ketiga dan membiarkan manusia terinfeksi dengan sengaja demi menemukan mimpi kekebalan massal?
  • Cara diatas berlawanan dengan cara menemukan vaksin pembunuh corona. 
Well seperti contoh di Cina terkadang contoh sebuah pemerintahan yang sukses tidak harus otoriter, demokratis atau otokratis. Semua itu hanyalah bentuk dan model yang telah ada, semuanya pernah sukses. Sejarah mencatatnya dengan adil, tidak ada yang pernah menjadi lebih baik daripada yang lain.

Pada kasus Cina pemerintah bertindak seperti seorang ayah yang tegas dan menghukum anak anaknya untuk mematuhi perintah mereka demi kebaikan di masa yang akan datang. Pada kasus Eropa pemerintah berperilaku seperti seorang teman yang sungkan menerapkan aturan kepada teman temannya...Bayangkan, dunia tanpa warna, jadi sesungguhnya baik dan buruk itu terpulang pada penempatannya....

Niat Indonesia meloggarkan PSBB...?
Presiden sangat perduli dengan masa depan bangsa ini. Ia begitu kuatir negara kita bangkrut karena PSBB apalagi. Well done.

Lalu ketika pelonggaran PSBB semakin mengemuka banyak kalangan mulai resah. Dan mereka tidak lagi dapat melihat batas pelonggaran PSBB dengan niat 'pembiaran' alias pemerintah memang sedang mencoba memberlakukan teori 'HERD IMMUNITY' kepada masyarakat Indonesia. Seperti yang saya jelaskan di atas berdasarkan informasi yang telah berkembang, herd immunity berarti membiarkan orang orang terpapar virus ini. 

Yang kuat dan telah memiliki kekebalan akan bertahan, yang tidak kuat harus mengucapkan 'Selamat Jalan' dalam kesakitan. Begitulah kira kira kasarnya. Saya tahu persis akan ada pihak yang berkepentingan membantah dan bermain kata kata terhadap isu ini. 

Namun ada hal positif yang terlihat di pangkal isu ini, namun fatal bagi kelangsungan hidup satu generasi yang terpapar covid 19.
  1. Pemerintah mengakui tidak bisa 'memberi makan' kepada seluruh rakyat Indonesia jika PSBB di berlakukan lebih lama lagi apalagi memberlakukan lockdown.
  2. Pemerintah ingin agar kita hidup normal baru: Biasakan pakai masker, biasakan social distancing, cuci tangan dan hidup sehat.
  3. Pemerintah lebih mengutamakan bisnis, dan melanjutkan program pembangunan ketimbang menundanya lebih lama lagi.
  4. Sampai saat ini antivirus belum ditemukan, hidup normal baru adalah pilihan yang di harus diterapkan.
Jangan sampai niat pemerintah melonggarkan PSBB adalah wujud dari penerapan Herd Immunity yang tidak berperi kemanusiaan itu. Pemerintah melalui presiden telah memberikan pernyataan ini: Masyarakat harus berdamai dengan covid 19, ketika pertanyaannya menjadi liar dari istana muncul klarisifikasi, berdamai dan hidup normal versi baru.

Tapi iya juga sih karena persoalannya terlalu sensitif, melonggarkan PSBB dan ide Herd Immnity memang terlihat hanya setipis kulit ari. Jika tidak akan pernah tahu juga jika sedari awal peerintah telah bertindak tegas terhadap pademi ini dan melakukan tindakan pencegahan ketimbang membantah keresahan masyarakat dengan berbagai pendapat yang aneh aneh. Kita memang tidak pernah tahu. Lebih baik berhenti saling menyalahkan.

Bagaimana kita menerapkan 'hidup normal baru' yang di lontarkan oleh istana? 

Yang paling masuk akal adalah:
  • Biarpun berada di luar rumah tetap jaga jarak dengan orang lain, biasakanlah itu menjadi budaya baru.
  • Biarpun berada di luar rumah pakai selalu masker, biasakan itu sampai menjadi budaya.
  • Biarpun di luar rumah selalu mencuci tangan bersih bersih dan biarkan itu menjadi kebiasaan baru kita selamanya.
  • Hidup sehat cukup tidur, cukup asupan makanan (yang terakhir sungguh tidak realistis karena orang banyak hidup dalam kekurangan)
OK, ok. ok ...Kita harus mengerti Pemerintah juga sedang kesulitan mencari cara untuk mengatasi pademi ini, dan hingga saat ini ide berdamai dengan covid 19 adalah solusi terbaik yang mungkin dapat di lakukan dan solusi ini tampak menguntungkan keuda belah pihak:
  1. Menguntungkan bagi manusia yang kembali normal dan beraktifitas walau dengan risiko lebih besar menjadi korban.
  2. Menguntungkan bagi kelanjutan hidup virus ini terutama di negara kita. Memungkinkan mereka bermutasi lebih maju dan lebih kuat lagi di masa depan.
Tapi coba pikirkan kembali, sepertinya kita mengabaikan pilihan lain dan bereksprimen dengan percobaan berikut itu dan menjadikan hampir 200 juta jiwa populasi kita sebagai kelinci percobaan herd immunity. Namun sekali lagi, segala pilihan tampak buruk sekarang. Setelah ini segalanya akan berubah menjadi: NEVER BE THE SAME AGAIN.

NAMUN BAGAIMANA SIH WAJAH DUNIA SETELAH PADEMI BERLALU?

Covid-19 mungkin mendatangkan berton ton masalah dan penderitaan kepada umat manusia, seperti kesulitan hidup, kesulitan bersosialisasi, hingga kesulitan dalam menjaga dan menjamin perawatan kesehatan.

Walaupun begitu kecil dan tampak sebagai makhluk virus yang lemah dia telah melumpuhkan satu kapal induk Amerika dengan lebih 2 lusin pesawat flanker dan rudal rudal super modern di atasnya. Komandan kapal induk terpaksa di jemput ke rumah sakit untuk di rawat, sementara para Navy Seal lainnya di kenakan prosedur karantina.
apa yang terjadi kepada dunia setelah pademi usai?
apa yang terjadi kepada dunia setelah pademi usai?

Karena tidak mengalami, saya tidak dapat membandingkannya dengan perang dunia ke-2, namun dunia kemudian menyadari betapa banyak perubahan pada peri kehidupan yang terjadi setelah perang dunia ke-2  berlalu. Cara kita memandang hidup dan cara memandang dunia setelah itu tidak pernah sama lagi seperti sebelumnya.

Ia hampir melumpuhkan Italia, Kini ia mengusik kebanggan dan harga diri sebuah negara Super Power seperti Amerika. Jadi kita tidak mungkin tidak akan bertanya tanya, seandainya kelak dunia pulih dari Corona akankah wajah dunia menjadi normal seperti sediakala? Ataukah akan berubah selamanya, menjadi lebih menyenangkan atau bahkan menjadi lebih keras dan membuat kita menjadi lebih dewasa dalam bersikap terhadap segala bentuk perbedaan termasuk keyakinan?

Mengingat sebagai makhluk biologis, kita begitu lemahnya. Begitu mudahnya di lecehkan oleh penyakit, rasa kemanusiaan kita terluka ketika melihat tayangan mayat mayat yang terbiar tergelatak di bungkus kardus di Equador. Juga ritual kematian yang tidak dapat lagi di lanjutkan karenanya. Tidak ada kesaktian agama di tunjukan ketika Mekah dan Vatikan di tutup. Corona tanpa sungkan sungkan akan masuk ke gereja, mesjid dan vihara. Corona juga menyerang siapapun tanpa perduli status, keyakinan, kekuasaan dan kekekayaan.

Namun Corona juga merubah banyak sekali kebiasaan kita : bersalaman, berpelukan berkumpul, pesta, ibadah dan hingga belanja ke luar rumah. Itu tidak ada lagi, dan bahkan mungkin akan menjadi momen baru manusia dalam memandang dan menyikapi hidup selamanya.

Bahkan Corona merobah wajah dunia, bisnis, politik, kebijakan militerisme. Ada banyak perubahan yang telah terjadi dan akan terus terjadi lagi...Kita sedang bersiap untuk merobah cara kita memandang dan menyikapi hidup kita...sekali lagi dan mungkin untuk selamanya.

Sekali lagi kita bertanya: Akan seperti apa wajah dunia kelak, setelah setiap pemerintahan memberikan banyak keringan kepada rakyatnya, merelakan pajak, memberikan tunjangan dan subsidi, meringankan hukuman dan sebagainya. Akankah kita harus menanggung setelah itu?

Jangan under-estimate dulu, baca sampai selesai..

1. Mempercepat kehadiran  Mata uang digital. 

Sebelum corona kita telah melakukan pembayaran online tanpa menyentuh sedikitpun alat pembayarannya. Tidak uang kertas dan uang logam, tidak menyerahkan kartu kredit dan ATM.

Sebelumnya ada ide yang telah di laksanakan oleh sekelompok orang : mata uang digital, bitcoin, crypto currency. Bahkan saya pernah mencobanya. Dan karena main di facebook saya jadi tahu mereka telah berencana akan mengenalkan mata uang digital Libra kepada penduduk dunia, khususnya bermilyar milyar penggunanya.

Ternyata dunia tidak akan berhenti begitu saja. Hari ini dan seterusnya akan terjadi realisasinya. Dan mata uang digital membuat interaksi tradisional antara pembeli dan kasir dapat di tiadakan.

Anda bayangkan dunia tanpa uang fisik samasekali. Tidak ada dompet berisi lembaran uang kertas, tidak ada kartu kredit, tidak ada kartu debit lagi. Yang ada gadget genggam dengan layar berisi aplikasi keuangan yang sangat user friendly, dunia akan terbiasa dengan alat bayar seperti demikian. Bahkan tantangan berat mengaharuskan dunia menerapkan kebijakan fiskal baru yang tidak lagi di dominasi oleh Dollar Amerika.

Tidak terlalu mengejutkan walaupun pernah menentang ide mata uang digital Facebook ternyata Cina telah menerapkannya, hari ini dengan memanfaatkan gagdet genggam mereka dapat belanja sekalipun di kaki lima. Mereka memang telah siap untuk itu, ya sumber daya manusia, ya sumber daya teknologi juga.

Cina memang memiliki kepentingan untuk membendung atau kalau bisa menghancurkan pengaruh Dollar Amerika di dunia. Mereka memang terlihat sedang memulainya. Untuk jangka panjang itu sangat mengancam.

Menurut beberapa sumber di weibo, mata uang ini tidak dapat di manfaatkan oleh para spekulan karena fungsinya benar benar hanya sebagai alat transaksi, hanya dapat di manfaatkan oleh pemiliknya sebagai alat tukar walaupun memiliki semua kekuatan dan kesaktian mata uang konvesional, namun tidak akan melebihi campur tangan bisnis dalam bentuk fiskal yang telah ada. Oleh karena tidak dapat diperdagangkan maka seorang pialang mata uang seperti George Soros bisa menangis dan kehilangan mata pencariannya.

Dan perubahan tidak hanya sampai disana. Lebih jauh wajah perbankan juga berubah, mata uang digital datang bersamaan dengan kebutuhan industri 4.0 yang lebih efesien, otomatis, dan menggunakan A. I. (Artificial Intelligent ). Artinya tidak adalagi kasir dan teller Bank. Akuntan juga tidak lagi diperlukan karena hal tersebut dapat dilakukan oleh mesin jauh lebih cepat dan terhindar dari kesalahan yang tidak perlu.

Yang paling penting tidak ada lagi beaya mencetak uang, tidak ada lagi beaya membeli dan mengolah kertas mata uang yang memiliki spesifikasi khusus, tidak ada lagi beaya operasional dan membayar karyawan di percetakan mata uang, tidak adalagi korban tanaman hayati yang di bunuh demi menhasilkan kertas uang. Semua beaya produksi dan operasionalnya boleh di abaikan sekarang.

Jadi suatu hari dihari tua anda akan melihat anak anak dan cucu tidak lagi pergi ke Bank. Tidak lagi membayar belanjaan dengan alat tukar kuno yang bernama uang baik dalam bentuk lembar kertas maupun koin.

Itu akan terlihat sama bagaimana orang pada zaman dulu menulis dan mengirim surat kepada kekasihnya yang jauh. Betapa kini itu tidak lagi terjadi di zaman WhatsApp dan media sosial sekarang.

Dan mata uang mengotaki semua kegiatan ekonomi atau bisnis, sedangkan bisnis pada sepanjang kehidupan adalah seperti darah dan nadi kehidupan kita, karena uang yang di hasilkan akan dapat dimanfaatkan untuk banyak hal: Membeayai projek teknologi, pendidikan, kesehatan dan bahkan membeli beberapa aspek terkait kehidupan kita.

Satu hal yang dapat kita lihat pada setelahnya: Penggunaan trafik internet pasti meningkat drastis, Server menjadi sibuk, banyak orang orang tua mulai bertanya kepada saya baik via online maupun langsung di tempat kerja: "Bang, apa spek laptop yang bagus?"

Saya jelaskan sedikit gambarannya, sesuai dengan kebutuhan mereka: Laptop murah bisa internet, dapat menjalankan aplikasi PC dasar. Sudah! Dan saya tahu mengapa hal itu terjadi: Anak anak harus belajar online di rumah, kelak jika sudah ada perangkat akan ada yang bertanya: Jaringan 5G sudah masuk ke Indonesia belum?

Malangnya kita bukan Cina, sementara 5G belum masuk ke negara kita, Cina telah menerapkan jaringan 6G pada fasilitas militer mereka. Kita masih boleh untuk tidak berkecil hati, karena bahkan Amerika sang negara Adi Daya itu sendiri masih belum menerapkan jaringan 5G di negaranya.

Jadi ini adalah kesempatan belajar bisnis jualan gagdet kembali. Anda bisa membantu troubleshooting hal hal yang orang kebanyakan belum siap melalui teknologi.

Jadi memang benar ini adalah era A. I.

2. Membatasi hubungan sosial

Selagi itu berhubungan dengan cara pandang manusia dalam hubungan sosial, covid-19 adalah sebuah momen yang dapat membalikan realitas kehidupan kita. Bayangkan sebuah tradisi keluarga yang dengan susah payah mendidik keluarganya dengan tatakrama bersalaman dan mencium tangan, mencium tangan orang yang lebih tua, bayangkan tradisi lain yang umum di berbagai belahan dunia ketika bertemu berpelukan dan saling mencium pipi kiri dan kanan.
apa yang terjadi kepada dunia setelah pademi usai?
apa yang terjadi kepada dunia setelah pademi usai?

Itu untuk sementara tidak ada lagi. Namun ada satu pelajaran yang telah disampaikan melalui realitas corona: Hubungan antar sesama yang berlebihan secara fisik tidak selamanya baik! Bahkan berbahaya. Dan itu karena pada kenyataanya kita adalah makhluk biologis, sama seperti hewan hewan, sama seperti kucing dan anjing pada saat mereka mengidap rabies. Manusia juga bahkan hampir tanpa terkecuali.

Jika selama ini kita begitu mensakralkan hubungan dekat secara fisik dengan sesama manusia, maka saat ini hal itu berbeda, kita harus menjaga jarak, kita harus membatasi hal itu.

Ada hal yang dapat kita lihat sebagai perbandingan: Negara negara yang masyarakatnya kecanduan hubungan sosial seperti Italia, Inggris dan Perancis menderita paling banyak. Itu karena mereka berinteraksi langsung dengan keluarga, berpesta, dan berkumpul dengan teman teman merka. Sementara penduduk negara yang memang selama ini terlihat lebih individual terdampak lebih sedikit terdampak oleh serangan mengerikan corona, Jerman yang masyarakatnya memang tidak terlalu tertarik atau tidak berlebihan dalam hubungan sosial adalah salah satu negara yang sedang 'beruntung itu'.

Masih menyangkut kegiatan kemanusiaan, hal yang paling dianggap sakral dalam kehidupanpun terpengaruh dengan signifikan: Tidak ada lagi kebebasan ibadah dalam bentuk kelompok berjamaah di mesjid, tidak ada lagi misa Akbar yang dapat dilakukan tanpa was was di Gereja, tidak adalagi pengajian dan saling bersilaturahmi dengan kontak fisik tanpa di bayangi oleh kekhawatiran. Tidak ada lagi kelas dengan murid murid dan guru berdiri di depan kelas.

Semuanya seolah jungkir balik. Kita kemudian tahu, apapun yang selama ini telah kita patuhi hanyalah sebuah nilai atau tatanilai yang telah dibuat oleh manusia itu sendiri, dan telah kita taati sebagai tradisi beribu ribu tahun lamanya, hanya saja hari ini hal itu mulai tidak berlaku lagi, mungkin nanti jika pademi ini telah pulih dan kehidupan akan berjalan seperti sedia kala.

Atau, jika nanti pademi ini telah selesai kita tidak akan dapat melupakan betapa kita telah di 'bully' dan betapa semua nilai dan kultur yang telah kita pegang teguh selama ini telah di lecehkan sedemikian rupa tanpa daya untuk membelanya. Dan mungkin ingatan itu akan merobah cara kita memandang kehidupan dan posisi kita selamanya di alam semesta ini.

Jadi pikirkan baik baik: Kelak video confrence mungkin dapat mengganti pertemuan langsung untuk meeting, mungkin juga teknologi A.I. akan berkembang lebih cepat setelah peristiwa ini berlalu. Teknologi akan menggantikan banyak hal: Pekerjaan kita, memecahkan problem hubungan sosial kita, mengganti cara ibadah kita. Ada masanya suatu ketika kita tidak dapat menolak realitas itu, di zaman yang oleh orang sekarang tidak terbayangkan, namun adalah hal biasa pada zaman nanti.

Ujung ujugnnya juga membuat orang mencari dan akhirnya membeli perangakat komputer atau gadget untuk berkomunikasi. Ujung ujungnya orang lebih kencang beli qouta internet. Karena tanpa semua itu hidup di masa seperti ini sangat sepi.

Kesempatan buat kembali belajar bisnis jualan gagdet seperti tablet, hape dan asesoriesnya. Pasar komputer akan bergairah kembali, tentu saja dalam bentuk produk baru.

3. Potensi studi Online dan mempercepat sistem industri 4.0

Selama ini pradigma belajar itu adalah mahal. Benar sekali itu. Ilmu memang mahal. Anak anak harus membayar pendaftaran sekolah, membayar uang gedung, membayar baju seragam, membayar uang bulanan sekolah. Itu faktanya di dunia nyata. Namun di dunia online dengan sumber daya yang tidak terbatas.

Paling tidak lupakan beaya gedung, seragam sekolah, belikan anak anda laptop dan ajarkan cara menggunakannya, bimbing mereka menuju situs situs online belajar dan mengajar. Jika dunia kita telah memiliki fasilitas itu mengapa kita harus menanggung beban fisik pendidikan yang begitu berat?

Ini masanya belajar online, belajar di rumah saja. Dan ini masanya anak anak mempelajari mata pelajaran matimatika dasar, koding, programming dan bahasa bahasa mesin yang lebih futuristik. Bahasa bahasa yang sebenarnya sangat mudah di pelajari namun terhalang cara berfikir kita yang tradisional, dan menganggapnya sulit dan atau bahkan tidak penting.

Benar, pada setiap sesuatu pasti ada harga yang harus dibayar dalam bentuk apa saja. Termasuk kehilangan 'kebahagiaan' masa lalu. Akan tetapi jangan lupa akan selalu ada hal hal baru yang akan kita dapatkan.

Sebelum terjadi perubahan lebih jauh dan lebih maju lagi anda bisa memanfaatkan momen ini: Laptop atau pc pendidikan, atau tablet ukuran layar besar. Fitur jaringan cepat dan asesories yang mendukung. Sedang banyak rumah tangga yang membutuhkan itu.

4. Alam menjadi segar kembali. (Nature refresh )

Oleh karena corona telah menghentikan banyak sekali mesin industri dan juga mengurangi perjalanan antar negara secara drastis.

Kapal laut, pesawat terbang penumpangnya berkurang drastis.

Karuan hal tersebut membuat mesin mesin berhenti beroperasi dalam menghasilkan jelaga di udara. Bahkan sekarang langit Jakarta tampak biru. Bumi juga behenti bergetar Karena menurut hasil penelitian para ahli bagian bawah lapisan bumi getarannya jadi sang at berkurang. Ini adalah pertanda baik bagi alam.

Kita tidak tahu persis apa dampak positif corona terhadap alam sampai para ahli mengatakannya.

Namun ada hal hal kecil dalam kehidupan sehari hari yang jelas telah berubah:
1. Antrian makin renggang dan panjang.
2. Beli makanan diluar harus di bungles Dan lalu di bawa pulang ke rumah.
3. Kemana mana harus pakai masker
4. Setiap waktu harus mencuci tangan dengan sabun atau cairan densifektan.

5. Persiapan manusia menuju lompatan teknologi dan industri 4.0

Manusia akan segera terhubung dengan teknologi. Rencana ini memang sedang berjalan, para pelaku teknologi umumnya mengakui salah satu halangan adalah masih adanya sekelompok orang yang sangat konservatif dalam mempertahankan kultur lama. Hidup dengan cara tradisional dan mempertahankan nilai lama.

Akan tetapi kemajuan memang tidak dapat terelakan. Perkembangan A.I. yang melesat cepat dan tantangan rumit yang sedang kita hadapi di permukaan bumi memaksa manusia untuk memanfaatkan sumber daya teknologi untuk memecahkan masalah. Akan sampai juga masanya kita harus bekerja jauh di ruang angkasa sana dan harus terbiasa dengan kesepian dan keheningan jagat raya. Tanpa interaksi yang dengan sesama kecuali melalui gagdet.

Manusia mungkin akan sampai kepada takdir itu, takdir yang lebih tinggi, mencapai kesenangan dan sekaligus penderitaan yang lebih tinggi pula. Namun aman memperediksi bahwa ide industri 4.0 akan lebih mudah terlaksana di negara negara berkembang setelah pademi berlalu. Gara gara pengalaman pademi sistem industri 4.0 akan semakin di percepat karena ia cocok dengan hal itu.

Kita akan menemukan semakin banyak industri memperkerjakan robot, beberapa bidang pekerjaan akan lenyap karena memang tidak perlu dilakukan oleh manusia lagi. Sebut saja sistem perbankan yang selama ini masih di kerjakan oleh manusia seperti Teller, Akuntan. Bahkan di beberapa negara maju mulai memperkerjakan robot dengan bantuan kecerdasan A.I. sebagai pelayan restoran, koki, hingga resepsionist.

Saya selalu teringat kata kata Einstein: "Tidak ada yang abadi di dunia, kecuali perubahan itu sendiri". Dan sulit membantah itu.

Namun saya tetap bertanya, apa yang terjadi nanti?

NEVER BE THE SAME AGAIN

Menurut WHO kehidupan umat manusia tidak akan sama lagi meskipun setelah pademi Covid 19 berlalu. Pemerintah kita sendiri mulai 'mengkampanyekan' tentang 'hidup normal baru' yah akhirnya kita harus meninggalkan beberapa kebiasaan lama mungkin juga cara kita bersentuhan dalam melakukan hubungan sesama manusia dimasa akan datang sudah tidak lagi sama dengan di masa lalu semata mata demi kebaikan dan kelangsungan hidup manusia itu sendiri.

Penelitian terbaru menemukan jika covid 19 ini terdapat juga dalam sperma manusia. Dan menurut WHO covid 19 akan hidup selamanya bersama manusia dan tidak akan pernah lagi benar benar hilang dari kehidupan kita.

Mungkin sistem kekebalan tubuh kita akan memberikan ruang pada virus ini untuk hidup menumpang di dalam diri kita, dan mesin biologis kita akan berdamai dengannya.

Artikel ini telah tayang di editblogtema:
https://www.editblogtema.net/2020/05/mulai-hidup-normal-baru-berdamai-dengan.html

Anissa Auliasari
Born in Riau Island. Love music, Social Media, watching youtube, reading, cooking cake. Now I am living in Bandar Lampung, Love HTML, Javascript, python and C++ Just only an ordinary ...

4 comments

  1. cuma berharap wabak ini akan segera berakhir walaupun ia kelihatan mustahil dan kita dapat menjalani kehidupan seperti dahulu

    ReplyDelete
  2. Kalau dilihat-lihat sih aku sepakat bahwa kita saat ini sedang dirancang menuju herd immunity, atau memang sedang herd immunity yaa haha

    ReplyDelete
  3. salam kenal aku hanya tahu bahwa selalu ada Tuhan yang mengatur segalanya dan dia pernah Dzalim kepada Hambanya

    ReplyDelete
  4. masa pandemi korona
    kekebalan tubuh harus tetap dijaga mas boz

    ReplyDelete

Post a Comment

Maaf, mulai sekarang setiap komen yang menyertakan link akan terhapus otomatis setelah 1x24 jam, dan deteksi awal akan memberikan pertimbangan kami untuk suspend dan halaman yang bersangkutan akan rugi

Kirim Email