CARA PEMELUK AGAMA BERIBADAH DI ANGKASA LUAR

Faham Flat earth meredup setelah beberapa perusahaan dirgantara berlomba lomba membuat pesawat yang mampu membawa manusia menuju angkasa luar. Itu baru ide awal sementara jelas sekali terlihat teknologi tidak mau berhenti menciptakan gebrakan. Salah satu mengapa manusia akhirnya bergantung kepada kecerdasan dan pencapaian teknologi adalah karena ledakan populasi 7 milyar manusia pada sekarang akan terus menggandakan populasi karena angka kelahiran berbanding 5:1 dengan angka kematian.
Jelas kita tidak bisa mengabaikan hal ini: Jika dulu kita 1 jadi 2 dan terus jadi 3 sekarang adalah 7, jadi 14, dan terus jadi 28, 46 lonjakan populasi atau disebut juga ledakan populasi tentu saja bukan hal yang aneh, namun manusia selalu dapat bertahan. Tanaman yang berbuah lebat berkat teknologi contohnya dapat mengatasi kekurangan pangan akibat "ledakan populasi" ini.

Angkasa luar dan menemukan dunia baru atau planet baru yang disana kelak ras kita manusia bisa hidup dan berkembang biak seperti di bumi adalah sebuah keniscayaan. Itulah sebabnya tanpa kita sadari manusia secara naluriah menengadah ke langit ada harapan yang mengharu biru di jagat raya yang tidak bertepi yang pada malam hari di penuhi oleh bintang kemintang!

KETIKA PERJALANAN JAUH DI MULAI..
Awalnya ketika bumi belum terjamah teknologi para pengelana berpergian keseluruh penjuru bumi naik perahu layar, berkuda dan berjalan kaki. Ketika mereka pergi keluarga menghantarkan kepergiannya sampai punggung mereka menghilang di garis horison. Mereka menteskan air mata. Kita telah kehilangan semua itu ketika ruang waktu akhirnya mengerut: Pesawat jet telah diciptakan! Perjalanan yang pada zaman dahulu kala harus kita manusia lewati selama berbulan bulan dengan membawa segala kerinduan, kini dapat ditempuh dalam hitungan jam jikalau bukan menit dengan pesawat hypersonic. Kerinduan manusia terhadap waktu jadi menghilang karena teknologi memotongnya tanpa ampun!

Akan tetapi, hidup memang harus berubah tidak mungkin jalan di tempat. Begitu juga dengan teknologi akan terus menjadi semakin maju. Dengan pesawat hypersonic manusia kini mampu mengelilingi bumi dalam hitungan jam. Dan rasanya itu tidak akan berhenti sampai kita kelak menciptakan pesawat cybersonic hadir melintasi galaxy dalam kecepatan tidak terhingga. Ketika itu dengan bantuan A.I manusia akan mudah sekali menemukan planet planet kehidupan yang seindah bumi. Rumah baru kita ras manusia.

KITA AKAN MEMBAWA SEMUANYA KE TEPIAN ALAM SEMESTA

Kita akan membawa semuanya, kemanusiaan kita, tabiat kita, teknologi, cinta dan benci dan juga agama yang kita peluk menembus perjalanan menuju ke tepian semesta. Ketika saya membaca buku astronomi dan sains "Beyond The Universe" karya Carl Sagan (Salah satu staf pemimpin NASA) saya sangat tertarik dengan ulasannya yang selalu menyertakan kisah kisah tradisi kuno yang menguasai ilmu perbintangan. Ternyata manusia telah lama merindukan kebebasan untuk mengeksplorasi alam semesta, dan dengan kecerdasan mereka mulai menghitung bentuk lengkung alam semesta secara matimatis.

Ibadah adalah salah satu hal yang menarik, bagaimanakah manusia masa depan memandang keberadaan Tuhan dan kesetiaan mereka terhadap agama yang mereka peluk jika mereka masih mengaggapnya sebagai hal sangat penting. Di Sisi alam semesta yang tidak sama lagi koordinatnya dengan galaxy tempat bumi kita dilahirkan, apakah mereka akan membuat Ka'bah baru, dan mendirikan gereja dan kuil kuil? Apakah kita akan melihat sinagog? Dan hukum evolusi selalu terkait dengan lingkungan dan cara hidup kita dimasa depan. Apakah kita tidak akan berubah secara evolusional baik mental maupun fisik di jagat yang aneh di tepian alam semesta?

Walaupun jawabannya masih jauh sesungguhnya manusia itu adalah sederhana, kita mengikuti akan perkembangan.

JIKA DI BULAN ATAU MENAMBANG ASTROID. 

Relatif masih dekat dengan bumi yakni 384.400 KM. Bumi masih terlihat dari bulan, hanya saja waktu jika melihat pertukaran siang dan malam sudah tidak sama lagi. Kita dapat mematok jam teknologi kita dan tetap bisa beribadah mengikuti prosedur bumi. Jika kita berada di statsiun ruang angkasa yang telah menyediakan tempat tempat ibadah, hotel dan mall di masa depan, waktu bisa di rekayasa paralel mirip di bumi dan kita seolah dapat beribadah layaknya di bumi.

Jadi dengan teknologi manusia tidak kehilangan perasaan spritualnya untuk beribadah, teknologi membantu membuat waktu menjadi paralel dengan jam internet.

JIKA BERADA DI GALAXY LAIN

Cerita menjadi lain, namun navigasi pemetaan alam semesta telah benar benar kita kuasai sehingga koordinat ruang berjarak dua juta trilyun kilometer bukanlah hal yang sulit. Jika kita mengikuti keadaan sekarang jarak demikian membutuhkan perjalan beratus ratus atau bahkan beribu ribu tahun perjalanan cahaya. Bepergian keluar galaxy kita beisa berarti kehilangan keluarga untuk selama lamanya.

Namun ibadah tetap bisa dilakukan berdasarkan koordinat ruang waktu yang telah dipetakan, orang islam terutama yang hanya memiliki satu kiblat di Mekkah akan tetap bisa menghadap ke bumi tepat ke ka'bah walau jaraknya berjuta juta tahun perjalanan cahaya. Begitu juga orang kristen tetap akan mengetahui dengan tepat dimana Vatikan, Jerusalem dan kota kota suci mereka di bumi.

TIDAK ADA YANG ISTEMEWA

Hari ini semuanya terdengar begitu hebatnya masa depan tersebut. Akan tetapi tentu saja dimasa depan hal itu akan biasa biasa saja. hari ini ponsel Android yang mengenali wajah dan dapat kita ajak bicara adalah hal biasa biasa saja. Tapi cobalah kalau bisa anda balik ke waktu silam membawa gagdet ini dan tunjukan kepada nenek atau kakekmu yang masih muda, mereka mungkin bisa ketakutan dan mengaggapnya sebagai alat setan atau barang sihir.

Einstein berkata; Tidak ada yang abadi di dunia, kecuali perubahan itu sendiri. Kematian adalah perubahan kita untuk menjadi kehidupan yang lain.


Comments