3 CERITA BIJAKSANA

1. ORANG YANG TIDAK SUKA KAYA

Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang lelaki penyabit rumput, dia hidup dari hasil menyabit rumput dan menjualnya untuk makanan ternak. Dari pekerjaan itu dia mendapatkan uang 40 sen setiap hari, 20 sen untuk makan, 20 sen lagi ditabungnya. Tidak terasa hari demi hari berlalu, sampai suatu hari dia membuka tabungannya yang telah terkumpul sekian tahun, ternyata uang tersebut telah menjadi dua juta rupiah, si lelaki bingung mau diapakan uang sebanyak itu akhirnya dia pergi berjalan jalan ke kota dan melihat perhiasan perhiasan cantik di toko emas. Dia melihat sebuah cincin dan ingin membelinya.

Cincin itu harganya satu juga rupiah, dan dia membawanya pulang. Dia memakainya di jari manis, setelah setiap hari berlalu dia mulai bosan, membuka cincin itu dan mengembalikannya kedalam kemasan. Dia ingin menyingkirkannya, karena dia mulai tidak menyukai perhiasan tersebut, dia menyesal telah membelinya. Jadi dia berniat memberikannya kepada seseorang. Kebetulan di negeri itu putera seorang raja sedang berulang tahun, maka timbul gagasan untuk memberikan cincin tersebut kepada putera raja.

Dia datang ke acara tersebut dan mengatakan kepada putera raja bahwa pemberian tersebut, “dari seorang puteri” tujuannya agar keluarga raja tidak mengetahui bahwa pemberian itu sebenarnya berasal darinya.



Sket penyabit rumput

Putera raja menganggap pemberian berbentuk cincin tersebut amat indah, jadi dia berfikir bagaimana caranya membalas pemberian tersebut. Putera raja bertanya tentang si puteri. Si penyabit rumput mengatakan bahwa dia dilarang mengatakannya. Akhirnya putera raja menitipkan hadiah berharga ratusan kali lipat daripada harga cincin tersebut. Si penyabit rumput amat kebingungan menerima hadiah sebanyak dan semahal itu, jadi dia bertanya pada orang-orang, puteri manakah yang pantas menerima hadiah semahal itu? Seseorang mengatakan ada sebuah negeri dengan seorang puteri cantik hidup di negeri tetangga.

Mendengar itu si penyabit rumput menyiapkan kendaraan berkuda dan melakukan perjalanan menuju ke negeri yang disebutkan.

Benarlah disana hidup seorang puteri cantik jelita, jadi dia menyerahkan hadiah perhiasan indah mahal tersebut kepada sang puteri dengan mengatakan “hadiah ini dari putera raja”.

Puteri raja memeriksa hadiah tersebut dan kagum betapa indahnya perhiasan tersebut. Ketika si penyabit bermaksud pamit, sang puteri menahannya, dia menyerahkan berbagai perhiasan yang harganya seratus kali lipat lebih mahal. Si penyabit yang tadinya sudah lega, kini merasa susah hati karena merasa terbebani dengan “harta harta” ini. Mau tidak mau dia harus menyerahkan titipan hadiah dari puteri raja untuk putera raja dan dia berharap ini adalah yang terakhir.

Namun apa yang dia harapkan tidak kesampain, begitu menerima hadiah tersebut Putera raja jadi sangat panasaran, dia berfikir puteri raja ini pastilah sangat kaya, maka itu dia menyerahkan seratus karung emas yang diangkut oleh beberapa ekor keledai dan disertai pengawal agar si penyabit rumput menyerahkannya kepada puteri raja. Puteri raja kembali membalasnya dengan hadiah yang lebih mahal.

Demikian setiap hadiah akan dibalas hadiah yang lebih mahal. Sampai akhirnya si penyabit rumput mencari akal untuk mengakhirinya dan dia menyampaikan kepada Putera raja bahwa puteri ingin bertemu dengannya di perbatasan. Hal yang sama dia sampaikan kepada puteri raja, bahwa putera raja yang amat kaya ingin menemui nya di perbatasan. Kedua putera dan puteri raja ini amat saling penasaran, masing masing dengan pengawalan pergi ke perbatasan. Keduanya bertemu, sang putera raja sangat terpesona oleh kecantikan sang puteri. Beberapa tahun kemudian mereka menikah dan menyatukan kedua kerajaan. Putera dan puteri raja lalu meminta sang penyabit rumput untuk tinggal di istana mereka mengurus istana kerajaan dengan gaji yang sangat besar.

Namun sang penyabit rumput menjawab: “Hamba hanyalah seorang penyabit rumput, hamba tidak bisa tinggal di kota apalagi di istana, kalau paduka mengijinkan, hamba sangat bahagia bisa kembali ke desa hamba yang kecil, dan melakukan pekerjaan hamba kembali dengan tenang”


Sang penyabit rumput kembali kepada pekerjaannya sebagai tukang sabit rumput dan hidup dengan tenang di pinggir kota kerajaan sampai dia menutup usia…

2. PENJAHIT PAKAIAN AJAIB
Tersebutlah seorang raja yang sebenarnya baik namun punya kelemahan yakni sangat ter gila gila dengan pakaian bagus. Dia tidak pernah segan segan menghabiskan uang pergi berbelanja berbagai model pakaian bagus bagus dan mahal. Bahkan pakaiannya kebanyakan didatangkan dari berbagai penjuru dunia. Namun dia tidak pernah puas. Dia ingin pakaiannya lain daripada yang lain, dan tidak dipakai oleh orang kebanyakan. Karena kebiasaan ini urusan negara dan kesejahteraan rakyat pun jadi terbengkalai.



Raja dan tiga penjahit

Suatu hari berkunjung lah tiga orang yang mengaku sebagai penjahit pakaian ajaib, ketiga lelaki tersebut dapat meyakinkan baginda raja bahwa mereka adalah para ahli yang sangat jarang dan tidak ada bandingannya ada didunia. Sang raja menjadi percaya dan tidak sabar minta dibuatkan pakaian tersebut.

Ketika raja mengutarakan niatnya, tidak ada seorang menteripun yang berani mencegahnya. Mereka cuma manggut manggut menyetujui. Ketiga penjahit meminta uang yang sangat banyak dengan alasan akan membuat peralatan yang sangat ajaib. Bendahara negara walaupun telah melihat hal tidak beres namun dia mendiamkannya saja karena takut raja murka.

Hampir setiap hari ketiga orang tersebut meminta beaya pembuatan kain dan menjahit pakaian buat raja, namun bendahara negara tidak pernah melihat mereka melakukan pekerjaan atau memegang peralatan, mereka kelihatannya sibuk dengan peralatan yang tidak ada. Namun lagi lagi bendahara negara tidak berdaya karena itu adalah titah raja kepada ketiga orang tersebut.

Sampai suatu hari raja memanggil ketiga orang tersebut diihadapan perdana menteri, bendahara dan para pejabat istana,
“Wahai kalian para penjahit bertiga, sekarang waktunya kalian menunjukan hasil kerja kalian, saya ingin memakai pakaian ajaib hasil karya kalian”
Ketiganya bersujud dan mengatakan bahwa pakaian raja telah siap, adapun salah satu keajaiban pakaian tersebut adalah: pakaian tersebut hanya bisa dilihat oleh orang pintar dan setia kepada raja, sedangkan orang bodoh dan tidak setia dalam hati mereka kepada baginda raja, maka mereka ini tidak akan bisa melihat pakaian yang akan Paduka raja pakai ini”

Mendengar itu raja menganggukan kepala dengan puas, ketiga orang tersebut menyuruh raja membuka pakaian agar pakaian ajaib segera bisa dikenakan, disaksikan para menteri yang juga penasaran ingin melihat pakaian ajaib, ketika penjahit asing tersebut segera beraksi. Tangan ketiga orang tersebut seolah olah sedang memakaikan sebuah pakaian kepada raja yang sedang tidak berpakaian itu. Namun bagi para menteri dan bendahara kerajaan kelihatan sekali bahwa mereka tidak sedang memakaikan apa apa kepada raja.

Namun ketika tiga penjahit menanyakan kepada mereka, alangkah indah pakaian yang sedang dikenakan oleh sang raja, dan bagaimana pendapat anda para menteri? Para menteri pun menjawab: sungguh indah tiada ter peri, belum pernah kami melihat pakaian seindah dan se ajaib ini, lihatlah warnanya….ketiga penjahit tersenyum geli.

Ketika ketiga penjahit mengatakan telah selesai, raja sendiri pun sempat heran, kok dia tidak merasa berpakaian dan tidak dapat melihat “pakaian ajaib” yang dia pakai? Namun karena para menteri mengatakan keindahan pakaian yang sedang dia pakai, mau tidak mau raja juga mengatakan hal yang sama raja tidak mau terlihat bodoh dan . “Terima kasih para penjahit ajaib, sekarang saya akan berkeliling bersama para petinggi istana ke seluruh negara, tetapi sebelum hal itu dilaksanakan ada baiknya kita umumkan spesifikasi pakaian ajaib ini kepada seluruh rakyat di negeri ini”

Semua manggut manggut kepada raja. Bendahara negara yang sebenarnya merasa malu dan keberatan dengan keadaan rajapun tidak bisa berbuat apa apa selain mematuhi titah rajanya.

Keesokan harinya di umumkanlah spesifikasi pakaian ajaib raja: “Pakaian ajaib yang belum pernah dipakai oleh raja manapun di dunia ini, hanya orang pintar, cerdas dan jujur yang dapat melihat pakaian ini, yang tidak bisa melihatnya pastilah orang tidak jujur bodoh dan bebal”

Lalu sampailah di hari dimana raja dan rombongan pembesar istana berkeliling, rakyat yang sangat panasaran ingin melihat pakaian ajaib yang dikenakan raja berbondong bondong kelua rumah dan memenuhi tepi jalan yang akan dilewati oleh sang raja.

Apa yang mereka lihat adalah raja sedang bertelanjang bulat dengan di apit oleh para petinggi istana di kiri kanan dan belakangnya, serta para pengawal yang tidak sedikit jumlahnya. Rakyat terheran heran, namun tidak ada berani dikatakan bodoh, tidak pintar dan bebal. Maka banyak yang berteriak:

“Sungguh indah pakain raja, bahannya halus sekali!” Mendengar itu raja tersenyum sangat bangga, berlomba lomba orang menyelaminya. Namun ketika rombongan melewati anak anak kecil yang sedang bermain, anak anak itu berhenti bermain dan memelototi raja seperti melihat hal yang paling aneh di dunia. Kemudian salah seorang dari mereka berseru: “lihatlah sang Raja sedang bugil, gak berpakaian!”

Yang lain tertawa tawa.

Rombongan raja kaget dan para pengawal segera mengurung anak anak tersebut sementara para orang dewasa yang berada disekitar tempat tersebut menjadi cemas. Ketika para pengawal sedang sedang sibuk, tiba tiba raja berseru: STOP! Lalu dia mengambil jubah pengawal untuk menutupi tubuhnya. Tadi dia berfikir, tarohlah anak anak ini masih bodoh, tapi mereka pasti jujur! Dia mendekati seorang tua, “katakanlah dengan jujur, apakah saya sedang berpakaian?”

Siorang tua dengan ketakutan namun dengan jujur menjawab: “Ampun paduka…mereka benar, hamba yang bodoh inipun tidak melihat paduka sedang berpakaian”

Bagai langit runtuh ke atas kepala raja. Dia memerintahkan rombongan balik ke istana dan mencari si penjahit. Tapi ketiga penjahit tersebut telah menghilang setelah membawa harta hasil penipuan terhadap raja dengan nilai sangat besar.

Hari hari berikutnya raja banyak merenung, namun perlahan tapi pasti dia mulai berubah menjadi seorang raja yang bijak….

3. PENUNGGANG KELEDAI

Dua orang yang sedang menunggang seekor keledai suatu hari melewati perkampungan demi perkampungan. Kedua orang tua itu adalah seorang ayah dan anak lelakinya. Pada kampung pertama dilintasi orang orang atau penduduk kampung yang sedang mereka lewati, berkerumun di tepi jalan dan berseru:

“Lihatlah kedua orang itu, sampai hati menunggang seekor keledai kurus berdua, memanglah kalau orang tidak punya rasa kasihan kepada hewan yang tidak berdaya”



Penunggang keledai dan anaknya

Si bapak dan sianak berpandangan, lalu sianak turun dari keledai berjalan kaki sementara si ayah tetap menunggang keledai itu.

Namun ketika melintasi kampung kedua, lagi lagi orang orang berkerumun, membicarakan hal itu dan salah seorang dari mereka berseru:

” wahai bapak, sampai hati kau membiarkan anakmu berjalan kaki, sementara kau enak enakan menunggang keledai. Orang tua yang sungguh tegaan kau ini” (mungkin ini kampung Batak lah..he he he)

Si ayah turun dari keledainya dan menyuruh anak lelakinya menaiki keledai, sementara mereka meneruskan perjalanan dengan si ayah yang sekarang berjalan kaki disamping keledai. Hingga mereka sampai ke kampung berikutnya dan hal yang sama pun terjadi, orang orang berkerumun dan berseru:

“Lihatlah anak itu, sungguh tega membiarkan ayah yang sudah tua berjalan kaki sementara dia enak enakan menunggang keledai itu”

Mendengar itu si anak turun dari keledai dan kini mereka berjalan kaki disamping keledai tanpa seorang pun menunggangnya lagi. Mereka berfikir ini mungkin lebih adil di dalam pandangan orang orang kampung berikutnya.

Tapi apa yang mereka pikirkan tidak menjadi kenyataan, sesampainya di kampung berikutnya, orang orang berkerumun dan berkomentar keras mentertawai mereka berdua:

“Kedua orang itu bodoh, untuk apa ya keledai kalau tidak ditunggang? Aha mungkin tiga tiganya memang otak keledai”

Tidak selamanya kita dapat mengikuti apa jalan pikiran orang yang melihat sesuatu dengan jalan pikiran masing masing, kadang kita harus bersikat seperti “anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu…..”


Comments

  1. Itu beneran ada apa miyos doang ya Mz.. kalau jaman skrng di kasih duit berkali kali ya ilang

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi masih saja tetap ada

      Delete
    2. Iya sih ada, tapi kaya nyari jerami di tumpukan jarum hik.. salah sebut 😋

      Delete
  2. bener banget yang point ketiga tentang keledai.. kadang apa yang kita pikirkan belum tentu sama dengan apa yang orang pikirkan. Bisa saja yang dipikirkan kita bisa salah kata orang lain dan sebaliknya ya kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. makanya ilmu cuek bisa diterapkan, model cool yang masih bisa ditiru

      Delete
  3. Cerita yang kedua, saya sering mendengar dan bahkan membacanya. Hal yang sangat menarik untuk direnungkan. Agar tidak tergila-gila pada pujian.

    ReplyDelete
  4. Wkwkwkkw... saya sering denger kisah nomer tiga, kalau gak salah pas kelas 4 SD dulu sering banget baca cerita seperti ini...

    kalau begini terlitas sebuah kalimat " Pakailah apa yang kamu suka dan biarkan orang menilai sesukanya..... Setel budeg...😄😄

    ReplyDelete
  5. Cerita pertama tentang orang yang tak ingin kaya menurut saya mengandung hikmah luar biasa, dimana seseorang yang ulet, tekun, mencintai pekerjaanya dan tak lupa bersyukur kepada sang kuasa tak mengharapkan dunia. yang dia inginkan adalah kedamaian hati, dan harta menurutnya tak mampu memerikan itu semua.

    Cerita kedua memperlihatkan betapa kejujuran itu sangat diperlukan. siapapun yang mengatakan jujur tetap harus diapresiasi. saya jadi ingat kalimat tentang mata uang yang berlaku di seluruh dunia adalah kejujuran.

    Untuk cerita yang ketiga saya menangkap bahwa dalam menjalani hidup ini jangan terlalu mendengarkan perkataan orang, sebab seperti apapun usaha kita untuk membungkan mulut mereka akan sia sia

    cmiiw

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku pingin kaya pakudin, biar bisa ajak teman teman umroh inshallah he he he

      Delete
  6. Suka sama cerita pertama sama ketiga. Yang pertama Kirain mau di ambil sendiri hartanya, taunya jujur yah dikasihin. Hehe.

    ReplyDelete

Post a Comment