ANTARA PRIBAHASA LAMA DENGAN REALITA KEHIDUPAN SEKARANG

"Lain padang lain ilalang, lain lubuk lain pula ikannya" kata kata bijak dari nenek moyang orang melayu.
Di dalam kehidupan sehari hari banyak sekali pribahasa, pepatah, istilah dan tamsil yang yang coba dijadikan sebagai kalimat ungkapan untuk menjelaskan sesuatu yang sulit di rangkai dengan kata kata secara teknis. Itulah kebijaksanaan orang orang tua zaman dulu. Hari ini ponakanku pada saat saya ungkapkan hal yang sama malah protes, mereka anak anak zaman now tidak salah, mereka ingin menempatkan bahasa secara teknis dan secara harfiah tepat pada tempatnya, sesuai maknanya dan tidak  "melukai" hal hal lain diluar itu.

Misalnya di media sosial seperti facebook bertebaran di wall peribahasa yagn entah ditujukan kepada siapa secara psikologis mungkin dapat menggambarkan, kejengkelan, kesedihan atau mencoba mengungkapkan suatu isi hati dan berusaha terlihat "bijak" dengan mengutip pribahasa. Contoh:

1. LEBAH vs LALAT
"Ibarat lalat dan lebah. Lalat penuh dengan kotoran, lebah penuh dengan madu"
Lalu TS-nya (threat starter) mencoba menjelaskannya secara ilmiah: Mengapa lalat selalu identik dengan kotoran dan kuman penyakit? Mengapa Lebah identik dengan madu dan kesehatan? Karena lalat diciptakan dengan indra penciuman yang hanya dapat mengenali kotoran, sedangkan lebah diciptakan dengan indra penciuman yang hanya ingin mengenali bunga bunga indah dan madu"

Ponakanku yang baru duduk dikelas 3 SMP komplain, darimana TS belajar "biologi" ngawur seperti itu? Memangnya lalat sudah pasti menggunakan penciuman pada saat mengenali segala kotoran kesukaannya? Dan lebah mengenali bunga dan madu bukankah memang naluri mereka sudah terpetakan dalam genom mereka seperti itu?

Aku menggelengkan kepala. Ini model yang patut kita jadikan tulisan betapa nilai hidup generasi ke generasi mulai bergeser perlahan tapi pasti dan mengikis nilai lama dalam hal mengungkapkan metafora dalam bentuk perbendaharan bahasa. Tetapi tidak selalu salah, bukan? Lalu saya bertanya: "Jadi menurut kamu bagaimana?"

"TS, ungkapannya salah secara biologi, dia tendensius, menyalahkan makhluk yang satu dan memihak kepada makhluk lain. Memang hak dia menyukai madu. Tapi sebagai manusia yang memiliki akal pikiran kita harus adil. Madu memang sangat berguna bagi kehidupan, tetapi apa akibatnya kalau manusia kebanyakan minum madu?

-Meningkatkan kadar gula darah
-Kerusakan gigi dan berakibat kebusukan mulut yang lebih parah daripada lalat.
-Berat badan bertambah tanpa kendali
-Merusak saluran pencernaan (sampai kepada penyakit acid reflux)
-Sembelit dan masalah perut
-dll

Sebaliknya dunia tanpa spesies makhluk seperti lalat juga berakibat kehilangan keseimbangan:
-Bangkai bangkai menjadi mumi yang awet dan memfosil tidak terurai
-Pembusukan oleh lalat berguna menguraikan jasad jasad untuk didaur ulang menjadi humus yang akan menyuburkan tanah, dimana mawar mawar penuh madu tumbuh, sehingga para lebah yang dia puja puja dapat mengambil sari patinya. Lebah tidak akan seperti manusia yang "kacang lupa akan kulitnya" (wah istilah lagi)
-Lalat, nyamuk dan kecoa membuat industri obat nyamuk, insect spray dapat tumbuh dan menciptakan lapangan kerja. Kita hidup diatas bangkai makhluk makhluk yang kita benci walaupun secara tidak langsung.

Jadi, wahai omku yang ganteng, aku tidak menerima pengibaratan yang menyakiti perasaan makhluk lain ha ha ha...

1. TIKUS DAN ULAR

Di Wilayah Amerika pada zaman dahulu merupakan wilayah pertanian yang luas. Di tempat pertanian selalu terdapat makhluk makhluk ini: Ular, tikus dan hama serangga. Ular menjadi musuh manusia karena dianggap suka menggigit dan gigitannya terkenal berbisa. Sedangkan tikus musuh tanaman gandum dan padi karena kadang jumlah mereka yang menjadi diluar batas banyaknya sebagai akibat cepatnya mereka berkembang biak. Hama serangga seperti hama wereng memakan daun daun muda tanaman.

Pada mulanya hanya sekelumit tanaman yang diserang tikus, semuanya masih seimbang: Ada ular yang memangsa tikus tikus. Tetapi manusia juga benci ular jadi mereka awalnya berburu ular. Jumlah ular berkurang drastis dalam 8 bulan karena berbagai teknik menangkap dan meracun ular telah diterapkan diseluruh negeri.

Apa lacur? Tiba tiba mereka menyadari jumlah tikus berlipat lipat banyaknya menyerang tanaman dan menjadi hama yang mengerikan. Akibatnya panen gagal total karena dimusnahkan oleh jutaan tikus yang berkembang biak tak terkendali. Banyak penduduk yang pindah karena tidak merasa nyaman lagi. Pemerintah federal sampai mengeluarkan hadiah bagi siapa saja yang dapat mengatasi tikus ini.

Apa yang terjadi...

Tikus merasa nyaman berkembang biak karena pemangsa mereka yaitu ular menghilang, suara suara yang selama ini keluar dari ular dan mengganggu reproduksi berketurunan telah lenyap nyaris tanpa sisa, jumlahnya menjadi jutaan dan mampu memusnahkan panen pertanian penduduk dalam waktu yang singkat.

Kita tidak dapat membenci ular dan tikus atau salah satu dari mereka. Kebencian dan sikap tidak bijaksana manusialah yang sesungguhnya yang telah menghancurkan diri mereka sendiri. Sesungguhnya  menurut hasil penelitian biologi, mereka para ular dan tikus lebih dahulu menghuni planet bumi ini jauh sebelum kita. Jadi siapa sesungguhnya merampas dunia siapa? Sebagai makhluk yang berakal kita harus lebih bijak lagi dalam mengendalikan siklus dan juga kehidupan.

3. ANJING DAN BABI

Siapa yang menyukai anjing, siapa yang membenci babi. Tidak seharusnya demikian, keduanya adalah penghuni asli bumi ini, setiap orang beragama pasti percaya bahwa apa yang diciptakan Tuhan memiliki arti yang tidak dapat kita kecilkan. Dan Tuhan tidak memiliki perasaan benci terhadap ciptaannya sendiri. Tetapi manusia dengan ungkapan kebenciannya selalu berkata:  "Anjing kau" dan atau "Babi kau!"

Maaf, bukan bermaksud mengulangi kata kata tidak sopan jika kesopanan itu adalah hal yang teramat penting bagi kita. Akan tetapi dalam realitas kehidupan kita gampang sekali menemukan ungkapan dalam bentuk "umpatan" seperti demikian seolah kedua makhluk itu adalah musuh Tuhan dan bukan ciptaan Tuhan. Dimanapun berawalnya warisan kebencian kita terhadap makhluk lain yang diturunkan turun temurun dari nenek moyang kita, itu bukan berasal dari dalam genom kita, itu diwariskan melalui "didikan" turun temurun. Dan maaf, setiap kita marah terhadap orang lain yang mencoba merobah tradisi kita menjadi berbeda.

Ada status quo terlepas dari terdapatnya ajaran agama yang semakin memberikan ruang pembenaran yang disalah gunakan oleh pemeluknya baik sengaja maupun tanpa sengaja. Ajaran agama selalu menutamakan kasih sayang terhadap sesama makhluk.

Pernah ada kisah di zaman nabi Muhammad, nabinya orang Islam seorang pelacur ditemukan meninggal. Orang orang bingung untuk mensalatkannya (menyembahyangkannya) karena dosa seorang pelacur bukanlah dosa yang bisa dianggap kecil.

Lalu nabi Muhammad datang dan mengatakan sesungguhnya pelacur itu telah diampunkan dosanya oleh Tuhan. Loh mengapa?

Usut punya usut ketika sang pelacur berjalan di malam hari dia melewati sebuah sumur dalam dimana ada seekor anjing sedang sekarat karena kehausan lalu wanita itu membuka sepatunya dan turun ke dalam sumur menciduk air menggunakan sepatunya dan memberi minum anjing yang sedang kehausan itu. Dan hal itu dia lakukan secara spontan dari hati nuraninya yang baik. Setelah itu wanita tersebut ditemukan telah meninggal. Tetapi perbautannya yang merefleksikan kasih sayang terhadap makhluk lain itu telah menyelamatkan jiwanya dari kungkungan dosa.

4. TABU

Orang orang tua zaman dulu di seluruh dunia memiliki tradisi tabu yang mereka sampaikan kepada anak anak mereka, contohnya tabu orang banjarmasin:

"Nak, jangan tendang bakul, nanti kakimu terkena penyakit gajah"

Nenek nenek akan berkata demikian kepada para cucunya. Bagi anak anak zaman now yang mulai terpapar informasi luas tanpa batas dan berfikir lebih logis, jelas menendang apa saja dalam bentuk perabotan atau peralatan rumah itu "tabu" Bakulnya bakalan cepat rusak, mungkin para orang tua zaman dulu berfikir lebih baik menakut nakuti ketimbang memberikan pendidikan dengan menjelaskan akibat logis dari perbuatan cucu cucunya terhadap sang bakul yang malang.

Ada lagi tabu duduk di ambang pintu bagi anak gadis dan bujang, dengan akibat sudah mendapat jodoh dan atau kelak bisa di"tendang" oleh mertua. Bagi anak anak zaman now jelas duduk dan bardiri di ambang pintu dapat menghalangi akses orang masuk keluar dari pintu tersebut.

5. DONGENG

Dan Dongeng menghiasi masa kecil kita, suara suara lembut nenek nenek sebelum kita tidur telah menghantarkan kita tanpa terasa kepada dunia dewasa. Ada nenek nenek yang sedang menyulam di wajah bulan purnama. Ada puteri duyung yang cantik jelita, masuk hingga ke alam mimpi kita dalam wujud pelangi yang berwarna.

Lalu ketika tumbuh dewasa kita mulai melihat dunia nyata seperti apa seolah semua cerita nenek telah bertolak belakang. Namun kita menyadari mereka hanya ingin menghantarkan kita dalam suasana yang penuh keindahan, mereka hanya ingin dikenang bahwa mereka pernah ada dan menjadi bagian diri kita selama hidup diatas dunia fana ini....


Comments

  1. anjing masukalquran lho, dia suka nemenin manusia kajian di gua. kalo gak salah jagain. disurat spesial al kahfi

    ReplyDelete

Post a Comment