SENJA DI PELABUHAN KECIL, GALAU HATI SANG PUJANGGA

Yang namanya cinta dan kisah asmara pasti akan dialami oleh hampir setiap orang.
Siapa yang tidak pernah mendengar tentang Khairil Anwar penyair yang satu ini rasanya memiliki semangat juang yang abadi seperti tersirat pada syair atau puisinya yang berjudul: "Binatang Jalang" yakni pada kutipan: "Dan aku lebih tidak perduli, ku ingin hidup seribu tahun lagi" Begitu individualis, namun pribadi itu begitu kuat mempesona hingga melanglang buana diantara penyekat zaman. Khairil Anwar terbukti tetap akan hidup seribu tahun lagi di hati kita.
Tapi sebuah syair Khairil Anwar entah mengapa begitu menyesak didada pada saat mencermatinya nyata sekali sang pujangga sedang dilanda oleh perasaan cinta asmara terhadap seseorang dan siapakah sebenarnya Sri Ayati itu? Bagi saya itu tidak terlalu penting, wanita itu hanya mewakili sebuah subjek dari sebuah cerita romantis dari penyair kita.

Khairil Anwar yang begitu cuek dengan kehidupan, perokok dan tidak perduli kepada kecukupan materi ataupun harta benda, selalu menyiratkan kebebasan yang mutlak tersirat dari syair syairnya yang orisinal ternyata akhirnya harus mengalami luka hati pada saat menyadari cintanya bertepuk sebelah tangan. Namun boro boro mengemis cinta, dia nampak tegar dan menerima kekalahan cinta dengan hati terbuka, teguh dan sekokoh karang.

BAca syairnya:

SENJA DI PELABUHAN KECIL (Khairil Anwar)

buat: Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang,
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap...

1946

---------
Pada awal bait dia telah memutuskan bahwa "ini kali tidak ada yang mencari cinta" artinya dia telah menerima hidup dalam kesepian dan ikhlas melepaskan cinta yang tidak mau berpaut.

Pada alinea kedua dia menggambarkan perasaannya tanpa cengeng: "gerimis mempercepat kelam" itu adalah suasana hati sang penyair lalu suasana kesepian dan muram itu di kokohkan oleh bait: "Ada juga kelepak elang". Bagi saya kesannya sungguh kesepian!

Pada alinea terakhir puisi itu dia berhasil menguasai dirinya dengan kesadaran dan menuliskan bait: "Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan. menyisir semanjung, masih pengab harap...."

Kisah hidup Khairil Anwar adalah kisah dramatis, penuh dengan perjuangan. kepahitan dan juga penderitaan. Sampai dia meninggal di usia yang relatif masih muda dalam kesepian yang panjang namun namanya tetap akan dikenang, seperti tekadnya: Aku ingin hidup seribu tahun lagi.



Comments

  1. Puisi-puisi karya Chairil Anwar maknanya ... selalu daleeeem ..

    Kalo baca puisi karyanya saat malam hari lebih terasa maknanya ..

    ReplyDelete
  2. Memang, cinta kepada manusia bisa menimbulkan perih. Karena ia hanya makhluk. Beda dengan cinta kepada Sang Pencipta, selalu berujung berkah dan bahagia.

    ReplyDelete
  3. Saat membaca itu entah mengapa seolah dapat merasakan betapa nyeseknya perasaan beliau pada saat itu.

    ReplyDelete
  4. Saya baru tahu puisinya malahan,, kirain awalnya cerpen gitu

    ReplyDelete

Post a Comment