BELAJAR DARI PARA PENGEMIS DAN ORANG ORANG "GAGAL"

Ketika saya menonton korban perang, korban ledakan bom dan pembunuhan saya sadar mereka adalah manusia seperti saya. Saya bingung mau mengatakan dan mengutarakan perasaan apa pada saat saya membayangkan penderitaan, rasa sakit dan kesengsaraan yang menyeret keluarga mereka. 
Dan ketika saya duduk di kafe menulis ini beberapa orang pengemis tua datang dan saya tidak mengenal mereka selain mereka itu adalah manusia juga seperti diri saya.

Membayangkan diri saya seperti mereka adalah hal yang tidak terbayangkan, entah dimana mereka tinggal dan seperti apa sebenarnya mereka menikmati hidup mereka tanpa standar, namun segala kemungkinan bisa saja terjadi terhadap manusia yang jumlahnya telah mencapai 7 milyar ini. Selama ini saya lebih banyak melihat orang sukses: Bos perusahaan saya, artis yang tampil di telivisi saya, teman teman saya yang punya rumah dan mobil mewah.

Namun sekali itu ketika saya berhadapan dengan seorang pengemis yang benar benar cacat dan tua renta saya tiba tiba tidak lagi terlalu respek terhadap orang orang sukses itu. Saya tidak lagi menganggap mereka sukses, justeru mereka memiliki banyak kegagalan dalam hidup mereka. Mereka beribadah dan pergi ke mesjid dan gereja pakai mobil mewah, pergi makan di restoran dan kemelaratan menjadi momok yang menakutkan padahal setiap orang bisa saja terbenam dalam lumpur kemiskinan.

Bapak cacat itu telah tiga hari duduk semeja makan dengan saya disebuah tempat yang sepi dan bercerita bahwa dulunya dia adalah orang berada dan hidupnya tiba tiba menjadi berubah dalam sekejap, di tinggal keluarga, usaha bangkrut. Yang saya ingin ketahui hanyalah mengapa dia bisa begitu dalam terjerambab dalam kemiskinannya.

Akhirnya tidak hanya bapak itu, saya juga menemui bapak bapak dan ibu biu yang lain mereka terbagi tiga golongan:

1. Golongan satu. Benar benar orang susah sejak awal, tidak berpendidikan, tidak menggunakan nalar untuk melawan kemiskinannya, awalnya masih muda dan memiliki tenaga untuk menjadi buruh dan berkeluarga dan sempat bahagia, lalu menjadi tua dan tidak berdaya. Mereka menganggap diri mereka memang lemah dan layak menerima nasib seperti sekarang: Mengemis.
Mereka mengemis karena alasan:

  • Turun temurun, bapak dan ibunya mengemis dan anak anaknya juga diajak akhirnya anak anaknya pun besar kemungkinan jadi pengemis juga kalau sudah besar kelak
  • Bagi mereka itulah pekerjaan mudah, tidak butuh modal, tidak butuh skill macam macam. Cuma tahan malu dan gengsi. Namun buat apa juga gengsi? Toh semua orang juga sudah tahu dan maklum kalau merka adalah pengemis.
  • Memanfaatkan agama. Mereka tahu agama mengajarkan memberi sedekah. lalu mereka menghafal ayat ayat buat dibaca dan megnaji sambil mengemis. Perbuatan ini sungguh tercela karena agama Islam sesungguhnya mengajarkan: "Tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah" Artinya lebih baik memberi daripada meminta.

2. Golongan kedua. Awalnya mereka biasa saja, seperti orang kebanyakan memiliki penghasilan, punya rumah, punya keluarga dan menyekolahkan anaknya, namun karena keahlian mereka tidak memadai akhirnya menyeret mereka ke jurang kemiskinan dan kemiskinan itu semakin memebelenggu kehidupan mereka ketika mereka menjadi tua, lalu kini mereka tidak lagi punya pilihan dan mengemis untuk mempertahankan hidup. Walaupun tidak banyak namun mereka ada.

3. Golongan ketiga. Ini sungguh tidak masuk akal saya, awalnya mereka adalah orang berada, punya rumah dan mobil, punya usaha. Keluarga mereka di hormati di kotanya. Tetapi suatu waktu pukulan datang bertubi tubi didalam kehidupan mereka, rumah dan mobil terjual karena terlilit hutang, usaha hancur berkeping keping.

Mereka telah mencoba bangkit berkali kali namun gagal, akhirnya mereka berputus asa dan karena masih ada keyakinan iman dan agama mereka tidak bunuh diri seperti teman temannya yang lain, mereka tetap menjalani hidup walau harus sebagai seorang pengemis sambil mencoba berusaha namun apa daya usia telah lanjut.

Jadi pelajaran apa yang saya dapatkan? Bagi saya golongan pertama bukanlah orang terlalu menderita karena mereka terbiasa dengan kehidupan seperti itu, bahkan mereka menikmatinya. Di perumahan liar dan kumuh lebih banyak canda dan tawa terdengar walaupun terdengar juga jeritan wanita wanita yang kesal karena kekurangan. Tugas kita adalah menaikan taraf hidup mereka melalui pendidikan dan pembinaan kesadaran nilai kehidupan.

Golongan kedua juga sama, mereka akhirnya terbiasa dan pasrah menerima nasibnya, tidak banyak yang dapat mereka kenang sebagai kesuksesan hidup. Mungkin mereka butuh bantuan modal dari pemerintah.

Dan akhirnya saya mencium tangan seorang tua dari golongan ketiga, mereka sangat menderita. Banyak hal yang mereka ingat dan mereka sesali di masa lalu. Perubahan itu terlalu jauh bagi mereka. Namun banyak juga dari mereka yang begitu kuat dan hanya mentertawakan nasib mereka.

Pada saat kami berpisah saya melihat genangan airmata di sudut mata keriput lelaki itu. Jujur saya belum mampu membantu setiap orang dengan keadaan saya yang sekarang dan saya juga sadar memberi uang bukanlah bantuan yang berarti buat kelangsungan hidup mereka. Saya tidak dapat membayangkan keindahan seperti apa yang telah dia tinggalkan dimasa lalu: Ruang rapat bersama teman temannya yang bos, ruang pesta dan kantor ber AC, rumah dan mobil mewah.

Kisah hidup mereka ternyata jauh lebih rumit daripada kisah hidup seorang sukses dan kaya, apalagi karena orang tua mereka yang kaya dan sukses itu juga sukses. Saya juga melihat keluarga mereka, anak anak gadis yang kecantikannya tersembunyi dibalik penampilan dekil, anak anak lelaki yang berpakaian lusuh.
Dan saya menyadari kemunafikan ini: Pada saat melihat orang kaya, sukses dan terkenal saya ingin seperti mereka. Namun ketika saya melihat kehidupan berbau apak dan sangat susah seperti ini saya ingin menjauhi mereka tanpa belajar apa apa dari pengalaman berharga mereka yang tersembunyi di dalam lobang kegelapan...
Diam diam saya ingat keluarga namun hanya dapat memandang ke langit malam Ramadhan yang diliput mendung

Batam center, Mei 2018


Comments

  1. Semoga garis kemiskinan di Indonesia cepat teratasi dan kesenjangan sosial tidak terjadi lagi.
    Berharap semua traf hidup rakyat Indonesia bisa sama rata.

    ReplyDelete
  2. Amin setiap orang berdiri ditempatnya menjalani hidup mereka sebagai sesuatu

    ReplyDelete
  3. asyik tulisannya, dari keseluruhan saya paling fokus memperhatikan gambar, di gambar ada kejujuran yang luar biada dari anak, meskipun dibaliknya ada nilai negatifnya.

    ReplyDelete
  4. Golongan 4, belum ketemu ya Mz? Mereka yang kaya bahkan punya mobil memilih mengemis karna penghasila dia dari itu lebih besar dari penghasilan AdSense blogger pemula 😊

    ReplyDelete
  5. Ya benar tu emang ada dan pelajaran ekonomi klasik banget

    ReplyDelete
  6. jika indikator keluarga sejahtera dilihat dari segi ekonomi mungkin mereka akan kalah dengan orang-orang kaya..tapi jika dilihat dari segi kebahagiaan justru orang-orang menengah ke bawah inilah yang lebih banyak karena mereka akan senantiasa bersyukur dan ikhlas dalam menjalani kehidupannya apapun yang terjadi..kadang orang kaya juga selalu disibukkan dengan pekerjaan sehingga lupa akan rasa syukur dan berbagi dengan sesamanya...sebagai mahasiswa jurusan pendidikan kesejahteraan keluarga saya merasa prihatin melihat angka kemiskinan yang semakin meningkat, itu akan menjadi PR besar bagi saya untuk bisa memberikan edukasi tentang keluarga sejahtera tentunya dengan bantuan pemerintah, lembaga, atau perorangan..

    ReplyDelete

Post a Comment