KODRAT MANUSIA: TIDAK SETIA KEPADA PASANGAN?

Aku tentu saja masih sangat muda ketika memikirkan ini. Seperti kebanyakan orang lain selama ini aku berfikir dengan pola yang sama dengan mereka. Memandang sebuah ikatan antara lawan jenis itu berdasarkan kultur atau adat kebiasaan turun temurun dimana aku tinggal, hidup dan dibesarkan. Berdasarkan prinsip agama dan keyakinan yang mereka anut. Seiring waktu aku mulai berfikir diluar kotak. Aku mengamati manusia, mempelajari biologi baik hewan dan manusia dan persamaan kebutuhan biologis yang tidak terbantahkan: Kebutuhan seksual dan melanjutkan keturunan secara alami.

DUNIA HEWAN
Aku mencari berbagai referensi dari dunia flora dan fauna, ternyata tanaman juga kawin atau menikah menurut standar mereka dan aturan alam, dan tentu saja menurut cara yang dapat mereka lakukan dan diterima didunia mereka. Tetapi yang paling mudah diamati adalah dunia hewan, maka jadilah aku penonton animal Planet, National Geographi dsb.

Awalnya dunia burung, burung burung artis terkenal suka kawin dan berganti ganti pasangan, aku tidak tahu mengapa mereka dijuluki sebagai burung burung artis mungkin karena mereka memiliki kebiasaan berkicau. Setiap musim berganti burung burung ini umumnya berganti ganti pasangan, mereka nampak berpasangan dan suka berpoliandri dan berpoligami (meminjam istilah dunia manusia)

Akan tetapi burung burung yang memiliki kebiasaan bermigrasi seperti burung burung manyar dan burung burung bangau, juga elang dan rajawali sangat terkenal setia kepada pasangannya, mereka umumnya berpasangan  hingga seumur hidup hanya dengan satu pasangan. Bahkan jenis unggas seperti angsa jarang sekali memiliki pasangan baru setelah pasangannya mati. Mereka nampak begitu setia terhadap pasangannya.

Beda sama unggas ayam yang tidak memiliki aturan dalam memilih pasangan, faktanya angsa adalah jenis penganut paham monogami yang sejati.

Sebenarnya mengapa hewan berperilaku poligami ada alasannya untuk alam dan itu tidak menyalahi kodrat alam sama sekali. Begitu juga mengapa mereka berperliku monogami juga ada alasannya bagi alam yakni salah satunya adalah untuk menjaga kelangsungan genetika mereka yang "khas".

DUNIA MANUSIA.
Dari sudut pandangan sains, manusia secara biologis tidaklah jauh berbeda dengan hewan, akan tetapi manusia mengklaim dirinya lebih baik dan lebih tinggi derajat kemakhlukannya karena memiliki akal pikiran. Faktanya dalam hal berpasangan manusia memiliki sifat keduanya: Setengah hewan, setengah manusia. Akan tetapi pertimbangan nilai yang mereka anut mendorong manusia untuk tidak berpoligami, misalnya hal tersebut terdapat dalam ajaran agama tertentu. Sistem Nilai dan Budaya yang menjadi "pengontrol" yang membatasi perilaku manusia kedalam aturan yang sesuai dengan keyakinan dan budaya yang mereka miliki. Nilai yang dianut manusia selalu berembel embel dengan akhiran "hukuman" sebagai konsekwensinya.

Umumnya manusia mulai berpasangan ketika mereka berusia "akil-baligh" hormon hormon biologis didalam tubuh merekayasa rangsangan syaraf dan mendorong manusia untuk saling tertarik kepada manusia lain terutama kepada lawan jenis, ketika itu cairan hormon tersebut sangat aktif mengobarkan perasaan "cinta" memicu cairan pendorong biologis yang membuat manusia berperilaku sangat baik terhadap calon pasangannya. Bahkan sampai rela berkorban apa saja demi orang yang dicintainya. Menurut penelitian rangsangan hormon ini persis dengan rangsangan narkoba terhadap tubuh dalam batas waktu tertentu.

Sayangnya menurut para ahli dorongan ini yang juga mendorong hewan mencintai pasangannya hanya bersifat sementara, terlalu lama cairan ini bereaksi didalam tubuh juga akan berdampak buruk terhadap kesehatan, sama sepeti ketika manusia bergantung kepada pengaruh penenang narkoba. Akan tetapi ketika hormon hormon ini mulai reda, perasaan dan dorongan cinta terhadap pasangan mulai surut.

Kata kata yang tadinya terdengar indah dan merdu mulai hambar. Itu terjadi karena hormon hormon tadi mulai mereda dan tubuh kita sebenarnya adalah mekanisme biologis yang sedang menjalankan tahap tahap tertentu sebagai makhluk hidup, bukan hanya kita tetapi juga hewan hewan, serangga dan tumbuhan walau ukuran dan porsinya berbeda. Dasar dasar perilaku ini hampir merata terpasang pada setiap makhluk hidup!

Ada perilaku seksual yang bertahan setia kepada satu pasangan saja seperti umumnya beberapa jenis hewan buas dan unggas namun dalam kasus yang sedikit lebih langka. Jumlah orang yang berpoligami bervariasi diantaranya adalah karena diatur dan dibatasi oleh keyakinan yang dianut manusia.

Jika kita mengatakan karena kita makhluk berakal dan sempurna sesungguhnya kita dalam kasus perkawinan harus berpikir ulang, apakah kita manusia harus membuat standar dan peraturan terlebih dahulu menurut norma, adat istiadat dan agama atau keyakinan yang kita anut? Hewan hewan juga ternyata memiliki "kode etik" mereka masing masing. Seekor angsa jantan setelah ditinggal mati oleh pasangannya biasanya akan mengusir angsa betina lain yang mencoba mendekatinya. Beberapa jenis hewan buas baik mamalia maupun unggas nampak menyendiri hingga keakhir hidup mereka setelah ditinggal mati oleh pasangannya.

Sebaliknya jenis unggas unggas tertentu seperti ayam tidak ambil pusing dengan aturan berpasangan seperti diatas. Dan agak aneh ketika penelitian menemukan fakta: manusia lebih mendekati sifat bangsa kera dan jenis jenis monyet dalam hal berpasangan. Jenis jenis kera cerdas seperti bonobo, gorrila dan urang utan kadang dalam beberapa kasus berpoligami atau mencari pasangan baru setelah ditinggal mati oleh pasangannya. Mereka juga melakukan "ritual" berpacaran dan bersikap manis dan mau berkorban apa saja demi kekasihnya. Namun hal itu perlahan berubah setelah mereka menjadi pasangan suami isteri.

TINGKAT KECERDASAN
Tingkat kecerdasan tidak banyak membedakan sifat sifat biologis manusia dengan hewan. Obat yang cocok untuk tikus akan cocok buat kera dan juga manusia, sifat biologis di atas permukaan bumi itu sama: Terbuat dari lautan asam yang sama, terbentuk dari lautan entropi untaian kata kata dari dasar yang sama. Hanya jumlah dan susunan genetika didalam genom itu yang membedakannya: Kita memiliki cetak biru manusia, mereka memilki cetak biru hewan hewan dan tanaman. Mekanismenya sama karena berasal dari bahan adonan yang sama.

Tetapi tingkat kecerdasan kemudian membuat kita sedikit berbeda: Hewan hewan bertindak dan bereaksi karena merespon alam, karena itu mereka tidak banyak berubah. Manusia bertindak karena mrespon alam dan kemudian merekayasanya dengan akal pikiran, kecerdasan ini disebut akal dan budi. Sebuah pasangan bertahan hidup bersama demi menjaga kelangsungan hidup berumah tangga walau perasaan sensasi cinta masa pubertas yang sangat indah itu telah hilang. Manusia masih bisa merekayasa dan mensugesti diri mereka agar tetap setia dan menyayangi pasangan hiudpnya.

KETERPAKSAAN ATAU KESADARAN?
Sulit membedakannya. Faktanya manusia sulit mengakui segala sesuatu dengan jujur, pemikiran jangka panjang, harapan dan impian masa depan bisa menjadi sebagian alasannya. Perpisahan bisa berakibat buruk secara finansial, bisa menjadi melapataka bagi kehidupan berumah tangga yang didalamnya terdapat anak anak.

Itu semua terjadi karena dari awal nilai kehidupan telah disepakati oleh manusia. Beberapa adat bahkan memberikan sangsi sosial yang berat terhadap penceraian. Sekali lagi harus difahami, itu hanyalah nilai manusia. Kita dapat memilih tidak menganutnya namun hidup dalam tekanan dan keterasingan. Kecuali nilai nilai seperti itu telah hilang ditelan zaman dan tiada penganutnya lagi.

Namun manusia juga memiliki keyakinan, pendirian dan komitmen yang bersifat lebih luwes. Beberapa pilihan dapat diambil dengan prinsip bahwa kita memilih yang terbaik dan jika pilihan sudah tiada kitalah yang harus memutuskan mana yang terbaik menurut akal sehat kita.

Dan manusia pada akhirnya tidak berbeda dengan makhluk lain seperti hewan dan tanaman, dilahirkan menjadi bayi yang menggemaskan, dewasa menjadi gagah dan cantik, lalu menjadi tua dan berakhir kepenghujung kehidupan yang bernama kematian. Siklus itu terus berulang dari nenek moyang, diri kita hingga ke anak cucu kita kelak...


Singapore, 14 April 2018


Comments

Post a Comment