TINJAU: SANG PENYANYI YANG MENGHILANG

Saya teringat salah satu kenangan akan suasana yang indah: burung burung tinjau (murai hitam dalam bahasa melayu atau jenis kacer dalam bahasa indonesia) masa kecil dulu burung ini berkicauan diantara pohon mengkudu dan pohon pohon bambu lalu beramai ramai mengepakan sayap pada saat mendekati tanah dan mendarat dekat padi yang sedang dijemur oleh penduduk kompak bersama para serdadu burung pipit yang berwarna cerah. Mereka berpesta pora bersama ayam peliharan mematuki cacing tanah dan telur semut sementara pipit dan ayam mematuki bulir bulir padi yang sedang di jemur..

Burung dengan warna hitam dan putih berkaki ramping dan berparuh tajam ini nampak begitu periang, suaranya khas dan terdengar merdu dan ramah ditelinga, begitu ramainya, ibuku turun ke tanah dan mengusir mereka dengan suara keras "hushhh!!!" mereka mengepakan sayap dan berterbangan lalu kembali lagi ketika ibuku masuk rumah, yang repot adalah aku disuruh menunggui jemuran itu.

Aku tidak pernah suka melihat anak anak nakal main ketapel mereka menmbaki burung itu dan bangga dengan hasilnya ketika tubuh tubuh burung itu terkulai ditanah, sedari kecil aku memang benci memelihara segala macam hewan, aku lebih suka melihat meraka hidup dialam bebas, namun walaupun mereka dibunuhi, mereka tetap saja kembali, kematian teman teman mereka tidak pernah dijadikan pelajaran bagi burung burung ini.

PARA PEMIKAT BURUNG 
Dan suatu ketika aku telah menjadi remaja pergi dari desaku untuk bersekolah hingga bertahun tahun aku kembali desaku berubah, burung burung tinjau sangat jarang terlihat, teman temanku bercerita dengan penuh kekaguman akan kehebatan para pemburu burung dengan senjata "pemikat" yakni tape recorder yang berisi rekaman suara burung burung tinjau. Suara itu membuat burung burung tinjau terperangkap kedalam sangkar. Kemudian hari ini aku tidak pernah lagi melihat burung ini di desaku, bisa dikatakan burung ini telah punah dari desaku.

Hari ini di medsos aku sering melakukan interaksi dengan teman teman tidak terbatas satu negara, di negara mereka burung burung nampak bersahabat dengan manusia, tidak ada sangkar burung, tidak ada toko penjual burung,. Burung burung datang bertandang ke rumah rumah penduduk dan diberi makan, mereka nampak begitu jinak.

HORMATI KODRAT MAKHLUK LAIN
Kita adalah manusia yang egois, kita menangkap burung untuk dimasukan kedalam sangkar demi kesenangan dan apapun alasannya hal itu jelas melanggar kodrat burung sebagai makhluk yang seharusnya terbang di alam bebas. Kita memang memberi mereka makan tatapi kita lupa kepada hukum evolusi: sayap sayap itu harus terus mengepak diketinggian langit, sayap sayap itu tidak berguna jika burung berada didalam sangkar. Anda mengatakan anda menyayangi mereka, itu bukan kasih sayang, itu adalah ego, karena jika anda mencintai alam dan lingkungannya, anda harus menjaga keutuhannya. Anda tidak berhak mengurung mereka. Pada akhirnya anda tidak mau mengakui hal ini: Anda memperjual belikan makhluk lain demi keuntungan materi, anda secara moral tidak bisa dimaafkan dan secara kodrat anda tidak layak dihormati.

Seekor kucing dan seekor anjing masih layak dijadikan peliharaan karena mereka memang cocok menjadi sahabat manusia dan bisa menyesuaikan diri dalam lingkungan hidup manusia, akan tetapi tidak semua makhluk hidup itu sama seperti kucing dan anjing, beberapa jenis hewan walaupun bisa menjadi sahabat manusia adalah jauh lebih baik jika mereka tidak hidup bersama manusia....



Kami hanya mencoba menjelaskan dan meluruskan cerita dalam hidup


Comments