TRAGEDI SEKANTONG SINGKONG

TRAGEDI SEKANTONG SINGKONG

Malam dingin menyelimuti dusun dikaki gunung. Angin bagai membeku diselimuti embun, disebuah gubuk nampak cahaya berkelip kelip dari tungku masak, seorang ibu muda yang sedang hamil terdengar membujuk anak prempuannya yang sedang kelaparan.

"Ade sabar ya sayang, ibu sedang masak" katanya
"Tapi kok lama sekali masaknya, ade sudah lapar sekali" rengek anak prempuan berwajah manis semanis ibunya itu.
"Ya makanya ade tidur dulu, nanti kalau ayah pulang, kita makan bersama" bujuknya sambil mengusap kepala kecil berambut ikal yang sedang terbaring lemah dilantai kayu beralas pelastik kusam.
Anak prempuan itu tersenyum manis membayangkan akan makan bersama kalau ayahnya nanti sudah pulang.

Sesungguhnya sejak dari tadi berkali kali dia membuka jendela dan memandang cemas keluar. Diluar sana, diujung jalan setapak hanya gelap dan waktu merambat menuju penghujung malam. Entah mengapa tidak seperti biasanya suaminya pulang terlambat setelah bekerja sebagai buruh kebun pada seorang penduduk dusun tetangga. Entah mengapa dia begitu takut dan cemas malam ini ketika menunggu suami tercinta.

Ditungku masak yang sedang dia jaga nyala apinya dengan ranting ranting kering yang tadi siang dikumpulkan hanya ada kuali berisikan air, berkali air itu dia tambahkan agar tidak kering, tidak ada beras untuk ditanak. Dia terpaksa berbohong agar anak prempuannya tidur dan tidak rewel sembari menunggu suaminya pulang membawa makanan.

Anak prempuan itu akhirnya tertidur, dan karena mengantuk perlahan dia membaringkan tubuhnya dan dia akhirnya tertidur juga disamping gadis kecilnya. Dalam tidur dia bermimpi buruk:

Dia seolah mendengar kentongan ditabuh, obor obor menerangi malam bagai berlari diatas rumput berembun dan teriakan gaduh: "Maling! Maling! Maling!" Seorang lelaki muda bertubuh kurus berlari terengah engah membawa buntalan kecil. Dia sedang tersudut dan mencoba meloloskan diri dari orang orang yang sedang marah, namun apa daya dia kehabisan tenaga, dia merasakan kesakitan ketika beberapa benda keras mulai menghunjam ditubuhnya,  sia sia usahanya meminta belas kasihan dan sia sia tangannya melindung tubuhnya, dia seperti seekor domba yang sedang dimangsa segerombolan srigala liar. Lalu semuanya menjadi gelap.

Sesosok tubuh terkapar di tengah orang orang yang mulai mereda kemarahannya dan mulai terkejut. Diterangi obor seseorang meyeruak kerumunan dan mengenali sosok berlumuran darah dan kini sudah tidak bergerak itu:
"Cepat angkat!!! Ini Usman!" mereka terkejut karena mengenalnya.
Usman terkenal lelaki muda yang baik dan rajin ibadah, selama ini walaupun hidup miskin dia tidak pernah menyusahkan orang lain. Beberapa orang memeriksa buntalan kecil berisi umbi yang baru dicabut yang masih erat dipegang lelaki muda malang itu.
"Ya Tuhan, dia hanya membawa sekantong ubi" teriak lelaki itu panik.
Tadinya mereka menyangka dia pencuri karena memasuki kebun singkong orang lain. Pemilik kebun yang sedang berjaga, mengejarnya karena melihat dia sedang mencabut tanaman singkongnya dan meneriakinya maling.

Sampai disitu siibu muda terbangun dengan jantung berdebar debar kencang seperti mau pecah. Diluar gubuk itu tiba tiba terdengar suara ramai dan pintu diketuk:
"Surti, surti! buka pintu!"
Mereka membawa sesosok tubuh berlumuran bekas darah dan sudah tidak bergerak. Siibu muda melihat semuanya bagai lanjutan mimpi buruk yang tidak berakhir itu mematung dihadapan tubuh lelaki yang amat dkenal dan dicintainya, yang kini terbaring dilantai dan tidak bergerak.

Anak prempuannya terbangun berusaha bangkit dengan lemas, dan bertanya: "ibu, ayah sudah pulang?"...beberapa menit kemudian keheningan pecah oleh tangis hesteris prempuan dari gubuk kesedihan itu....

Beberapa hari setelah peristiwa itu orang orang dusun masih melihat ibu muda hamil itu menggandeng tangan anak prempuannya di kuburan suaminya. Beberapa saat mereka terlihat berdiri sedih disana hingga menjelang senja.

Gubuk itu kini telah kosong, namun masih ada tumpukan singkong itu dekat tungku yang berdebu dan tidak pernah sekalipun dimakan. Menurut beberapa orang ibu dan anak prempuannya itu kini telah pergi kekota dan menjadi pengemis disana....
 
Dari Adelina Sufyan
Kunjungi kami di: 
AdelinaSasa

Comments