WARUNG POJOKAN BATAM: MENYIKAPI MASA KRISIS PEREKONOMIAN DENGAN BIJAK

Saya menulis ini karena setiap minggu saya duduk Mustafa Plaza. Mungkin tidak terlalu menarik, akan tetapi semakin lama saya duduk menikmati kopinya dipagi hari dan sore, semakin saya merasa ketinggalan jauh dengan seorang pemilik warung kios penyedia sarapan pagi dan nasi goreng sore di teras Mustafa Plaza. Saya akan bercerita kembali tentang hal ini diakhir rubrik saya.


1. MASA KRISIS PEREKONOMIAN: MEMPENGARUHI PENDIDIKAN dan PEKERJAAN (untuk pemerintah)

Tibalah saatnya krisis perekonomian yang mulai mempengaruhi sendi sendi ketahanan pangan keluarga. Bukan hanya itu kelanjutan pendidikan anak anak juga cukup memprihatinkan. Beaya pendidikan tidak berubah, bahkan cenderung naik , bukan? Melemahnya daya beli masyarakat mau tidak mau merupakan ancaman serius bagi program dan kebijakan pendidikan yang dicanangkan pemerintah. Selama ini kita didengungkan oleh retorika beaya pendidikan murah dan gratis, kenyataannya? Beaya pendidikan tetap mahal bahkan diluar dugaaan kebanyakan keluarga berpenghasilan rendah.

Celakanya kebijakan ini berlanjut dan mempengaruhi para calon tenaga kerja sehingga muncul pradigma: Tidak sekolah berarti tidak akan mendapatkan pekerjaan yang layak. Pepatah yang mengatakan, anak yang orang tuanya miskin berpotensi tetap menjadi miskin dan mewarisi kemiskinan keluarga - nyaris seperti hukum alam. Akan tetapi sebuah keluarga miskin dengan anak yang berpendidikan tinggi lebih berpeluang - cepat atau lambat meningkatkan status perekonomian atau kehidupan keluarga. Perusahaan perusahaan secara langsung maupun tidak langsung mulai mensyaratkan pendidikan sebagai hal utama ketika menerima calon tenaga kerja. Untuk masa sekarang syarat minimal SMA adalah syarat yang lumrah. Pendidikan hanya sampai SMA itu sudah sangat minim.

Ketika ekonomi negara masih terbilang normal saja pendidikan terasa berat apalagi dimasa krisis seperti sekarang, rasanya sulit mengakui bahwa kemajuan sebuah bangsa termasuk tingkat perekonomian kelak amat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang bagus dari rakyatnya. Ketika beaya pendidikan tidak turun ketika kemampuan ekonomi masyarakat melemah, akan lumrah orang berpikir: SMA saja sudah cukup, yang penting bisa tulis baca. Pola pikir tahun 60-an.

Kita juga harus tahu pendidikan adalah PR dan menjadi salah satu prioritas pemerintah. Namun keseriusan pemerintah dalam hal ini patut dipertanyakan: Bukankah hanya segelintir anak anak orang kaya yang mengisi universitas mahal dan ternama itu? Terdapat 89% anak anak orang miskin yang butuh sekolah. Mereka anak anak petani dari desa, anak anak buruh yang bekerja membanting tulang dikota. Program pemerintah yang membuat produk JHT dan dana pensiunan buruh melalui BPJS  kita hargai, namun seberapa efektif hal itu harus terus dikritisi. Dan pemerintah tidak boleh menutup telinga dari keluhan orang orang golongan miskin yang mayoritas karena sumbangsih mereka terhadap kokoh maupun goyahnya sendi sendi perekonomian negara ini tidak bisa dianggap enteng. Problem kenaikan gaji buruh yang selalu diikuti oleh tingginya kenaikan harga akibat inflasi juga harus di perbaiki akar masalahnya. Mengenai kenaikan gaji ini biasa kenaikan harga harga setelahnya melampaui kenaikan gaji buruh dan berakibat semakin melemahnya daya beli.

2. MENYIKAPI PERLEMAHAN PEREKONOMIAN. (Untuk pekerja)
Bagi kaum pekerja yang selama ini menggantungkan hidup dari upah, cobalah merobah pola pikir: Mungkin kita telah berusaha berhemat sekuat tenaga agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi. Membeli bahan makanan yang lebih murah - kalau bisa jangan sampai mengorbankan gizi - mengurangi jalan jalan ke mall bersama keluarga, apalagi kebanyakan pekerja adalah buruh harian lepas dan dibayar jam jaman. Sebagai pekerja dan menerima upah saya merasakan hal ini dan mencoba mencari tahu mengapa. Persoalannya ketika demo para buruh terlihat memiliki kenderaan bagus dan gagdet mahal, saya yakin itu dibayar dengan bunga kredit yang tidak kecil. Gaya hidup seorang pekerja seharusnya tidak seperti itu. Terlepas dari hak kita untuk memiliki apapun yang kita inginkan, animo atau nafsu membeli dan memiliki sesuatu tidak akan ada habis habisnya. Berhemat adalah dasar penyelamatan keuangan yang paling tepat.

Contoh bagi yang berpenghasilan jam jaman dan mengandalkan jam lembur untuk peningkatan upah, apa salahnya menabung ketika jam lembur masih banyak. Uang tabungan selalu berguna untuk modal usaha, menghadapi masa penceklik ketika kita harus makan basic, untuk deposito dll.

Membuka usaha dan bekerja part time adalah hal yang patut dipertimbangkan. Kebanyakan pekerja tentu susah "move on" dari bekerja dan membuka usaha. Pekerja terperangkap pola pikir, sudah berada di sektor nyaman, selama ini bekerja tinggal terima gaji diakhir bulan. Kalau usaha harus bersaing dengan pemain pemain lama yang misalnya telah lama jualan. Buang pola pikir ini, keberhasilan sebuah usaha tidak semata bergantung kepada lamanya kita telah menjalankan usaha, sama saja seeperti bekerja, semakin gigih dan menunjukan prestasi, semakin dekat kita ketampuk "kekuasaan". Dalam hal bisnis walau matodenya berbeda namun rivalitas dalam usaha dan bekerja sebagai pekerja adalah sama: Kita harus menunjukan kepada pelanggan bahwa kita adalah yang terbaik. Dalam hal bekerja kita harus membuktikan kepada atasan bahwa kita mampu melaksanakan pekerjaan serumit apapun tugas yang diberikan kepada kita. Persamaan diantara keduanya adalah kita harus menguasai bidang pekerjaan dan usaha yang kita geluti dengan keahlian, ketrampilan dan kemampuan memecahkan masalah dan mengambil keputusan. Dalam usaha kecil ketrampilan ini menjadi lebih sederhana karena kita bisa belajar sendiri tanpa sertifikasi tertulis.

Saya menulis ini - seperti saya singgung di awal tulisan -  karena saya terkesan dengan sebuah gerobak kios yang photonya saya cantumkan dibawah ini:



Warung A, penjual sarapannya masih muda, saya memperhatikan pagi hari warung portable ini menyediakan sarapan pagi berupa lontong, nasi lemak dan mie rebus. Harganya perporsi RP. 10.000,- murah bukan?

Di kiri kanannya terdapat tempat tempat serupa yang menawarkan penjualan roti atau warung gado gado, batagor dan siomay. Kalau saya perhatikan para pedagang ini penjualan mereka cukup stabil. Pelanggan mereka umumnya adalah orang orang yang setiap hari belanja dipasar sayuran dan mall Mustafa Plaza.

Pagi hari warung ini buka hingga pukul 9.30. Sore hingga malam buka lagi dengan jualan makanan yang berbeda, nasi goreng dengan sajian khas. Sama, harganya juga RP. 10.000,- perporsi. Sekali lagi murah, bukan?
Karena panasaran, dan saya tidak ingin mewanwancarai orang sedang sibuk saya duduk sambil menulis ini. Saya menghitung sendiri: 30 porsi lontong, nasi lemak telah laku dipagi hari, dan sore  hingga malam (17.00-21.00) saya sempat menghitung 25 porsi, jadi dia telah melakukan penjualan 55 porsi selama 6 jam. 55x10.000=550.000,- dengan asumsi keuntungan 250.000, dan modal 300.000,  hari itu (saya tidak bisa menghitung atau mengira mengira berapa modal yang dikeluarkannya untuk mengolah makanan ini) saya pikir dia berpenghasilan jauh lebih besar dari para buruh harian yang harus bekerja 8 jam sehari. 

Keuntungan berbisnis adalah pembukuan. Yang berarti uang anda dapat dikontrol secara "paksa" oleh tuntutan kelanjutan bisnis kecil anda. Jika pembukuan menjadi kebiasaan, ini akan berdampak sangat positif bagi rencana pengelolaan keuangan anda.

Saya pemerhati yang sepi, namun saya menyukai petualangan saya. Saya sendiri menjalankan usaha yang cukup rumit berjangka panjang seperti penjualan online yang masih pas pasan pemasukannya. Disamping itu saya menulis dan untuk sampai kearah apa yang saya inginkan saya telah melalui banyak hal: pengorbanan uang, waktu dan tekanan pekerjaan. Namun seperti kata pepatah: setiap orang punya impian dan kita semua akan mengejarnya walau apapun rintangannya.

Batam, 10 April 2016



Comments