Thursday

TUHAN TIDAK PERNAH MENGHUKUM ORANG LAIN UNTUK DIRIMU

MASA KECIL YANG TAK BAHAGIA
Paling tidak dimasa kecil dulu saya pernah berfikir Tuhan itu menakutkan karena Dia memiliki neraka, dan Tuhan itu tetap menakutkan walaupun Dia memiliki Sorga. Tuhan itu tempat saya merasa aman berlindung daripada gangguan segala setan dan hantu. Saya belajar agama, pada saat pertanyaan saya "salah" menurut ajaran yang diajarkan disekolah pak Guru "membetulkan" dengan berkata: "bukan begitu cara memikirkannya" saya menurut, sama seperti pelajaran yang didiktekan dan di imlakan. Saya masih anak anak usia 7 tahunan, di rumah saya diajarkan hal yang sama tentang ke mutlakan penguasa Adikodrati. Saya beriman karena kalau tidak saya adalah orang yang tersesat. Dan hari ini saya hanya melihat orang kebanyakan berjalan keluar rumah dan pergi ketempat ibadah adalah karena mereka dulunya telah melalui pendidikan itu. Memang begitulah cara bekerjanya.

Lalu ketika suatu hari saya marah pada seseorang yang saya sangka jahat karena dia memang jahat kepada saya, saya berdoa agar Tuhan menghukumnya, namun doa saya tidak pernah terkabul setiap hari saya melihat dia berangkat sekolah dan "baik baik" saja. Itu pelajaran yang baik bagi saya bahwa apa yang saya benci ternyata tidak dibenci juga oleh Tuhan, ketika saya melihat dia selalu disenangi oleh teman teman, saya merasa pacundang, saya merasa Tuhan memihak dia dan Tuhan membenci saya. Itu adalah pikiran anak anak yang menyangka dunia seharusnya adalah miliknya dan kebenaran selalu ada pada dirinya. Jadi saya berfikir ulang, cara menunjukan kebenaran sangat berbeda dengan cara menunjukan kenyataan dalam hidup ini.

Jadilah saya anak yang penyendiri tidak pernah memiliki keberanian untuk mencoba membuka diri dengan menyukai anak anak lain sebaya saya, saya sering berfantasi untuk menguasai dunia dan suatu hari saya menemukan yang harus saya kuasai itu adalah diri saya sendiri. Saya hanya bisa membuka diri terhadap orang orang yang benar benar dekat dengan saya, namun ketika usia saya menginjak remaja saya mulai melihat penderitaan makhluk makhluk lain: Ayam dipotong dan berdarah seperti pada saat saya berdarah saat terluka, sapi dan kambing di sembelih, saya merasa mereka kesakitan, apapun alasan manusia melakukan itu dengan dalih apapun mereka tidak dapat membuktikan bahwa hewan hewan tersebut ikhlas dipotong selain daripada cerita keyakinan yang tidak dapat dibuktikan secara nyata. Ketika saya bertanya kepada seorang paman yang saya rasa paling mengerti saya jawaban sama: Tuhan membolehkan kita memakan mereka melalui ajaran agama kita. Saya menyalahkan diri saya sendiri karena saat remaja begitu banyak pertanyaan tidak penting saya ajukan kepada mereka dan mereka selalu memiliki jawaban, namun jawaban itu tidak pernah dapat menghentikan rasa ingin tahu saya.

Dan saya menemukan seseorang, menanyakan hal yang sama, dia menjawab dengan logika: "Karena kita harus melanjutkan hidup dengan makan, kita tentu saja bisa hidup tanpa membunuh atau memotong kepala mereka, tapi kita ini kombinasi makhluk karnivora dan herbivora, kita butuh protein untuk membangun raga dan fisik kita hingga sampai kepada kesempurnaan, jadi makanlah daging kambing itu"

Terus terang saya sendiri ragu jika hal itu pernah dipertanyakan anak anak normal lain di desaku, namun setelah mendengar itu saya mengerti itu benar, kita juga adalah hewan yang memakan sesama makhluk, bahkan tanaman itu juga hidup walau saya tidak tahu apakah mereka juga bisa merasakan sakit. Hari itu saya menendang seekor kucing dan kucing berteriak marah karena kesakitan, saya menyesal dan bertambah bingung. Saya ingin menghilangkan semua pikiran itu, tapi saya tidak pernah bisa berhenti bertanya.

LALAT DAN SEMUT
Saya menepuk dan menangkap seekor lalat yang menjengkelkan karena selalu hinggap dibekas luka saya dan memberikan tubuhnya kepada semut, dia meronta ronta pada saat dikerumuni semut namun sayap itu dipegangi oleh puluhan semut yang semakin banyak jumlahnya, saat dia tidak berdaya semut semut membawanya memasuki lobang hitam, yang saya bayangkan adalah semut semut akan memakannya setelah sampai disarang mereka yang gelap dan hitam, membayangkan kengerian yang dihadapi oleh sang lalat. Tetapi suatu ketika kaki saya digigit semut dan saya marah lalu membunuhi puluhan semut yang menggigit saya. Saya termenung lagi, mengapa saya melakukan itu? Saya mencari jawabannya seorang diri didalam kamar tidur, tetapi ibu mengomeli saya karena mengira saya pemalas dan suka tidur sore hari jadi saya pergi ketika adik adik saya pulang bersama bibi yang mengasuhnya, saya hanya seorang diri menuju kebun yang sepi, melihat lebah dan kumbang berterbangan bersama mereka saya tidak pernah merasa sendiri.

Pelajaran lalat dan semut adalah pelajaran berharga dikepala anak anak seperti saya, jika saya mengorbankan lalat artinya saya menguntungkan semut tetapi semut yang tidak berterima kasih itu telah menggigit kaki saya dan saya membunuh mereka, saya tadinya berniat mencari minyak tanah dan menyiram sarang mereka. Tetapi jika saya lakukan itu kepada siapa sebenarnya saya berpihak? Kepada semut atau kepada lalat? Ternyata saya tidak berpihak kepada apapun, semut dan lalat itu tidak penting, saya sedang mengeksplorasi diri saya sendiri, saya hanya mementingkan diri sendiri.

Manusia adalah manusia dan Tuhan yang menciptakannya memberikan kesadaran kognitif seperti kesadaran akan keberadaaan diri mereka, seperti saya menganggap lalat dan semut ada, dan maka saya ada, hidup bersama mereka, bersama tanaman dan keluarga saya. Saya membayangkan seperti apa adanya Tuhan, wujudnya seperti diceritakan oleh guru guru agama, tidak akan ada yang dapat menyalahkan pikiran pada saat fantasi terlintas didalam benak manusia Tuhan dan ujudNya. Saya tidak bisa mempercayai setiap kata kata yang diulang ulang di dalam kelas agama selalu ditolak oleh logika dan saya merasa terintimidasi pada saat seorang guru mengatakan, itu adalah bisikan setan, sementara perkataan guru adalah ajaran yang benar, setan itu pernuh dengan tipu muslihat.

Saya tidak berani mempertanyakan apapun karena takut "tersesat" takut kalau kalau saya bertemu dengan setan, ketika saya mencoba berdebat dengan orang orang yang lebih tua, dan mereka kehabisan kata kata menjelaskan perihal setan mereka tersenyum melihatku dengan lekat: "Kalau kamu mau tahu, kamu itu adalah setan" dan mereka tertawa sementara saya merasa terhina. Apakah itu mendidik? Lalu apakah Tuhan menciptakan akal pikiran manusia untuk dibatasi? Untuk apa, jelas Tuhan tidak mungkin takut dengan manusia.

Lalu saya merasa mereka sebenarnya bodoh dan malas berfikir, dan saya meninggalkan mereka bersama ejekan ejekan mereka yang tidak dapat saya layani selain hanya membuang waktu. Setelah itu saya tidak lagi bertanya kepada siapapun, saya mulai membaca buku, bahkan mencuri buku apapun, mengambilnya diam diam dari setiap perpustakaan, tidak perduli berisi ajaran apapun. Saya juga tidak dapat mempercayai buku, karena saya membaca sampulnya buku buku ini ditulis oleh manusia juga, tetapi paling tidak mereka pasti orang luarbiasa dan memiliki paling tidak sedikit dengan saya yang suka berfikir, dan paling tidak mereka tidak akan mengatakan saya adalah "setan"

BERANDALAN
Dan tahun demi tahun berganti, sungai berganti pasang dan surut, berpuluh purnama saya melihat kelangit. Saya mulai mendekati orang orang yang tadinya saya benci, pemuda pemuda pemabuk, orang orang tua penjudi, saya merasa merekapun tidak dapat sepenuhnya menerima kehadiran saya yang aneh di tengah tengah mereka, saya mulai merokok, dan mencicipi minuman keras, saya mencari jawaban dan mencari jati diri saya. Beberapa kesempatan wajah saya lebam dan biru menerima pukulan keras, muntah dan perut melilit karena minuman. Saya mulai menemukan gairah pada saat membenci dan menginginkan seseorang mati. Dan dari sana saya mendapatkan pelajaran tidak setiap orang yang kita benci itu jahat atau lebih buruk daripada diri kita, kita harus melupakan pertolongan Tuhan dan mulai mengandalkan diri kita sendiri untuk memenangkan pertarungan.

Pada saat saya kalah dan kesakitan, menyangka diri saya akan mati, saya berdoa kepada Tuhan, seseorang datang menolong saya, orang yang sangat saya benci itu melepaskan saya mengoleskan ramuan ke luka luka saya, saya pulang sebagai pacundang. Tetapi sejak saat itu saya mulai merasa jadi dewasa berada diluar rumah.

Dua hari setelah itu orang tersebut ditangkap polisi karena kasus penganiyaan. Seorang teman mendekati saya: Itulah hukum karma. Saya menoleh kepada teman tersebut, karma apa?

"Karena dia menyakitimu" katanya.

Dengan ketus saya menjawab: "Saya tidak pernah mempercayai karma !"
Teman saya terkejut, membelalakan mata. Mungkin dia tidak menyangka saya sedang marah.

"Asal kamu tahu, sekalipun dia banyak menyakiti orang, dia ditangkap adalah karena dia bodoh, seharusnya dia dapat menahan diri"

"Kamu membelanya.....?"teman itu memandangku aneh
"Aku tidak membelanya" ketusku. Lalu aku pergi dengan diiringi pandangan bingung teman akrabku sendiri.

Sambil meninggalkan tempat itu saya berfikir, saya tetap merasa membenci orang itu. Tapi saya tidak ingin melihat dia hanya menjadi seorang manusia yang bodoh. Saya hanya kecewa pada saat merasa Tuhan hanya menjalankan rencanyanya sendiri, bukan karena membel saya dengan memperlihatkan bahwa orang itu tertangkap, dia tertangkap karena tidak memiliki rencana matang untuk melarikan diri.  Saya hanyalah seorang manusia diantara bermilyar manusia, hanyalah sebuah noktah diantara sebilyun benda hidup dan benda mati....

Begitu naif saya lalu membohongi diri saya dan mempercayai bahwa dia ditangkap karena menyakiti saya, sementara saya sendiri telah menendang perut kucing, membunuh lalat dan menyerahkannya dengan kejam kepada semut semut  yang sedang kelaparan, yang masih tersisa pada diri saya hanyalah kenyataan bahwa saya tidak melanjutkan niat saya menyiram sarang semut dan membakar merka habis, jika tidak tentulah saya telah menjadi bocah yang tidak menghargai kehidupan...


Kami hanya mencoba menjelaskan dan meluruskan cerita dalam hidup

No comments:

RESPONSIVE THEME

RESPONSIVE THEME
This theme is working 90% more speed on mobile