Sunday

PROJECT KEABADIAN MANUSIA PENEMUAN TEKNOLOGI YANG MENAKUTKAN AGAMA

YTeknologi dan Agama hingga hari ini selalu berseberangan dalam hal mengatur peri kehidupan. Masing masing mengklaim kebenaran disisi mereka. Teknologi bekerja berdasarkan kenyataan, agama mengambil ruang pada keyakinan manusia. Keduanya berperan besar dalam kemanusiaan. Agama selalu mendapat tantangan dari zaman yang terus berubah. Agama kadang menentang begitu banyak perubahan, menghawatirkan begitu banyak perkembangan zaman. Sementara teknologi terus bergerak maju, kadang "mendahului" zamannya. Agama mengutamakan moral, teknologi mengutamakan kemashlahatan manusia, bagaimana membuat hidup manusia semakin berkualitas dan nyaman.

1.TEKNOLOGI MELAWAN TABU
Dengan teknologi manusia menemukan banyak hal, menyingkap rahasia alam, membuat rekayasa teknologi demi kenyamanan hidup, menghilangkan begitu banyak jarak dan waktu. Teknologi berdampak sangat nyata dan dapat diterima sekalipun oleh seorang beragama pada akhirnya, sebaliknya tidak semua pelaku teknologi dapat menerima kepercayaan agama.
Misalnya, baru baru ini Google mengumumkan sebuah project yang akan memperpanjang hidup manusia. Agama lalu menyatakan itu melawan Tuhan. Dunia mafhum belaka bahwa dengan ilmu pengatahuan semua menjadi mungkin, apalagi eksprimen telah membuktikan bahwa hal itu sangat mungkin terjadi. Ilmuwan melakukan percobaan pada seekor tikus dan kita tahu secara biologis tikus sangat mirip manusia, apa yang dapat menyembuhkan tikus dapat menyembuhkan manusia, sebaliknya apa yang dapat meracuni tikus sudah barang tentu dapat meracuni manusia. Sudah menjadi umum di dunia medis sebelum sebuah temuan obat di berikan kepada manusia maka obat tersebut akan dicobakan kepada tikus atau kelinci terlebih dahulu.
Pada percobaan Project menuju hidup abadi ini seekor tikus pilihan yang sudah tua disuntikan semacam protein hasil temuan bertahun tahun laboratoriom Google, tikus itu ternyata berubah menjadi muda kembali dalam dua pekan! Secara biologis bukan hanya kulit yang kembali menjadi remaja tapi struktur tulang juga kembali meremaja, seluruh organ tubuh menjadi remaja kembali seolah jarum waktu bergerak terbalik. Tentu saja karena baru dimulai, temuan ini tidak akan serta merta dapat diuji cobakan kepada manusia, walaupun kemungkinannya sudah terlihat. Mencobakan kepada manusia membutuhkan legimitasi dan 100% akurasi. Dengan ditemukannya formula ini Google semakin bersemangat meneruskan project "Keabadian" mereka. Jika kelak rahasia keabadian ditemukan tidak akan setiap manusia beruntung mendapatkannya. Hanya terbatas orang orang tertentu.

Sementara itu agama semakin menghawatirkan dampak teknologi terhadap kemanusiaan. Karena berdasarkan kepada keyakinan kepada Tuhan, manusia tidak pantas menjadi pencipta. Namun diluar keyakinan, sebenarnya, menciptakan manusia yang "berakal pikiran" adalah dilema Tuhan. Jika Tuhan benar ada maka dia sudah mengerti bahwa manusia itu mirip dirinya, selalu bereksplorasi di alam semesta. Menciptakan manusia adalah tantangan dan risiko ke Illahian. Agama seperti ingin berdiri tetap ditempat, menghentikan waktu. Sementara Teknologi berusaha mengejar waktu, atau menaklukannya. Perbedaan ini dari zaman ke zaman semakin sulit di titik temukan bahwa agama dan sains berdamai tanpa syarat. 
Bagaimana mungkin itu bisa terjadi kalau dihadapan sains Kitab agama agama hanyalah fiksi spritualnya manusia? Hari ini didunia Sains memenangkan standard ini, menjadikan semua standardnya sebagai patokan bisnis, politik, pekerjaan, kreasi dan hampir diterima oleh seluruh manusia dipermukaan bumi, bahkan oleh para pemuka agama seperti Paus dan kebanyakan Pemuka Agama lain akan lebih menerima orang berpendidikan dengan standard ilmiah, atau sebuah perangkat dengan standard pass Quality Control. Tidak ada orang menerima sebuah produk dengan standard "Diridhoi oleh Tuhan" orang lebih nyaman menerima sebuah mobil dengan standard keselamatan ANSI ketimbang "dengan izin Tuhan Mobil ini akan selamat membawamu ke tempat tujuan" Sekali lagi setindak demi setindak, sains menang atas agama.

2. TEKNOLOGI MENGHUJAT KEYAKINAN DAN IMAN
Akan tetapi jika orang harus berdalil dengan logika sekalipun, jika Tuhan menciptakan segalanya, maka semua standard itupun adalah kehendakNya juga langsung maupun tidak langsung. Ilmu pengatahuan adalah hasil ciptaan yang dianugerahkan kepada manusia. Jadi sebenarnya hal tersebut "Diridhoi oleh Tuhan" Bagaimana mungkin tuhan marah kepada ilmu Pengetahuan dan memusuhi orang yang sedang mengerjakan Project Keabadian?
Zaman pasti akan terus berubah, tantangan akan semakin berat bagi manusia dengan semakin tingginya populasi dan berkurangnya sumber daya untuk mempertahankan hidup. Ilmu pengatahuan, buukan semata mata agama - adalah sangat diperlukan. Mungkin project keabadian suatu masa akan berguna ketika manusia harus mengembara di luar angkasa, mengembara dijagat raya dalam jarak jutaan tahun, mau tidak mau manusia harus abadi dalam artian kata bisa hidup dalam waktu tidak terbatas, untuk menemukan dan mencapai sumber daya baru di jagat raya maha luas ini. Walaupun keabadian buukan berarti tidak akan mati, namun manusia membutuhkan temuan itu kelak. Dan adalah hal yang lumrah sains ditentang oleh agama mati matian pada awalnya, namun kenyataan kemudian berkata lain, agama akan menyesuaikan diri. 

Dahulu ketika ilmuwan mengumumkan bentuk bumi yang tidak sesuai dengan gambaran agama, Gereja gempar dan menyeret Gallileo ke Mahkamah dengan tuduhan praktik sihir. Penemu bidang astronomi seperti Joannes Kepler bahkan diperlakukan lebih sadis, hingga kuburannya di obrak abrik karena fanatik yang buta. Hari ini sungguh tidak terbayang apa jadinya perkembangan teknologi ruang angkasa tanpa hukum hukum dan temuan bidang matimatik astronomi Brahe dan Kepler. Agama salah. Sains menang lagi.

Hari ini kita boleh tertawa ketika project keabadian dicetuskan dan berkata: Itu mustahil akan terjadi, Tuhan tidak akan membiarkan pekerjaan orang fasik. Sebuah statement takabur. Hari ini hanyalah permulaan kuno dari peletakan batu pondasi sebuah project ambisius itu. Ketika suatu hari teknologi mampu melepaskan manusia dari ketergantungan sumberdaya energi bumi, termasuk ketika kelak manusia dengan bantuan teknologi mampu berevolusi dan hidup tanpa oksigen diluar angkasa. Ini sebuah fantasi dan khayalan. Akan tetapi besi terbang itu pada zaman unta adalah hal yang mustahil bahkan mereka tidak pernah menghayalkannya, pesawat telivisi dan ponsel pintar. Perjalanan kebulan, pada awalnya hanyalah khayalan. Dan hari ini jadi kenyataan. jadi sains menang lagi.
Namun  sebenarnya pertentangan kedua kubu ini tidaklah luput dari motif personal para penggagas, penganut dan pegiat masing masing bidang, baik agama maupun sains sebenarnya hanyalah media bagi umat manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup.

Tentu saja yang paling banyak menyerang pihak lain biasanya adalah penganut agama yang fanatik, tidak punya dasar pengatahuan dan miskin tentang sains sehingga fanatisme tersebut menimbulkan kecurigaan berlebihan. Kalangan ini biasanya "mencocok cocok" kan dalil dari ayat ayat Alkitab untuk menyerang pihak lain. Misalnya Semua Kitab keagamaan tidak akan ada yang mengatakan dan memberikan penjelasan secara detail tentang fenomena gejela gejela matimatik alam. Setiap ulama bisa saja akan berbeda penafsiran tentangnya. Orang selalu mencocokan isi alkitab dengan temuan sains, bukan sebaliknya, dan sains nyaris tidak pernah menyinggung dan melibatkan agama dalam rangka mencari kebenaran ilmiah yang dapat mereka buktikan secara nyata di laboratoriom atau bukti matimatis.
Sebaliknya sains selalu menganggap alkitab tidak lebih hanyalah tullisan fiksi agama. Bagaimana membuktikan bahwa kitab itu benar benar dari Tuhan dengan bukti? Kitab itu dari seorang manusia biasa saja karena sugesti kesakralannya yang merasuk kedalam hati, kitab kemudian dibaca sampai ribuan tahun. Novelnya William Shakespeare juga tetap dibaca dari generasi kegenarasi dan tidak berubah karena terus terjaga dikhasanah dan hati pembacanya, siapa yang tidak tahu "Romeo & Juliet", "King Lear" dan "Hamlet"? Buku aslinya disimpan oleh ribuan pustaka besar dunia dan jutaan pembacanya diseluruh dunia namun penulisnya tidak mewajibkan untuk menghafalnya.


No comments:

RESPONSIVE THEME

RESPONSIVE THEME
This theme is working 90% more speed on mobile