Sunday

KEHEBATAN ASTRONOMI NENEK MOYANG KITA TIDAK DIAJARKAN OLEH ALLIEN.

Pengetahuan Astronomi bangsa kuno sering di tafsirkan dengan beragam dugaan: Mereka diajarkan oleh allien atau dewa dewa kuno, bahwa padazaman dahulu kala pesawat UFO telah turun kebumi dan allien mengajarkan beberapa manusia untuk dijadikan wakil mereka di bumi. Manusia lalu membuat kuil dan menyembah para dewa dewa yang turun dari langit tersebut.
Ilustrasi: Dewa dewa kuno (allien) turun ke bumi

Padahal sebenarnya pengetahuan tersebut adalah hasil olah otak dan intelijensia manusia itu sendiri yang bertalenta matematik, dan pengatahuan itu datang bukanlah instan seperti mengatakan bim salabim! Pengatahuan itu berangsur angsur sempurna sejak berproses dan berevolusi selama ribuan tahun, dicatat di dinding dinding biara atau di prasasti prasasti.
Awal manusia mencari Tuhan dan membentuk agama sebagai dasar kepercayaan kepada Pencipta, mereka menempatkan para dewa sangat tinggi, dan tempat yang sangat tinggi ada dilangit. Beberapa orang dengan kelebihan daya berpikir dan juga kecerdasan memandangi langit, disana tidak ada dewa, yang ada hanya langit biru. Pada siang hari ada matahari yang terang benderang, malam hari ada rembulan dan bintang kemintang.

Mereka mulai mempresentasikan keadaan di "ketinggian" dengan sejumlah persepsi, lalu berfikir, mengamati dan berhitung. Duduk seorang diri merenungi langit tidaklah mencukupi. Mereka berkumpul ditengah tanah lapang selama beratus ratus tahun, berdiskusi dan bertukar pendapat dan meletakan batu batu dibumi sebagai penanda pergerakan bintang bintang, hingga mereka menemukan sebuah siklus peredaran bintang terhadap bumi dari tanda demi tanda yang telah mereka pasang. Karena itu manusia mulai membangun kuil atau tempat tempat ritual dan ibadah bagi para pendeta dan orang awam, orang dengan pengatahuan astronomi ini kemudian medapatkan posisi terhormat sebagai pendeta atau orang kepercayaan pendeta. Mereka menemukan dasar berhitung, jarak, perbandingan, bentuk dan pola pola. Mereka mengatakan tempat para dewa dilangit dan ditempat ketinggian lainnya. Masyarakat percaya dan mengagumi mereka karena ketepatan mereka mengatakan kapan bulan akan terbit dan kapan akan terbenam, mereka bahkan dapat memprediksi musim dengan tepat. Kapan harus bercocok tanam dan kapan harus berlayar kelautan. Masyarakat biasa menganggap pengetahuan tentang bintang itu berasal dari para dewa. Dan mendirikan kuil untuk memuja dewa dewa.

Peristiwa alam yang diamati adalah gejela astronomis dan matimatis. Para pengamat langit menandai pergerakan bulan dan kaitannya dengan musim. Misalnya pada bulan kesembilan biasanya adalah musim dingin ditempat tertentu, dan pada bulan ke tiga adalah musim semi. Pengamatan diperluas kepada siklus peredaran matahari. Tahun demi tahun ditandai dalam catatan, peristiwa peristiwa yang terulang di istemewakan dan akan berguna sebagai bahan ramalan atau untuk pertahanan.

Di zaman modern ini manusia bahkan hampir mampu menghitung bentang alam semesta secara detail dan akurat. Menelusuri rahasianya tanpa mistis agama. Berbeda dengan dahulu ketika alternatif disiplin keilmuan masih sedikit, orang orang meletakan semuanya kepada kepercayaan mistis atau religi, pergerakan alam di tafsirkan sebagai perpindahan penguasa langit keistana langit yang lain, bencana alam tidak dicari penyebab (root cause)nya untuk dipelajari dan diatasi dengan pengetahuan. Jika terjadi bencana alam orang kuno akan meratap didalam kuil mereka lalu mempersembahkan korban kepada  para dewa dewa. Memang di zaman sekarang kepercayaan seperti itu masih tersisa di daerah daerah pedalaman.

Bertolak dari rasa ingin tahu manusia akhirnya perlahan lahhan dapat mengatasi persoalan kehidupan dengan ilmu pengatahuan walau kadang ilmu pengatahuan bisa saja menjadi seperti pisau bermata dua: Bisa berguna dan bisa mendatangkan malapetaka.

Jadi hampir tidak ada kemungkinan manusia zaman dulu pintar astronomi karena diajarkan allien atau dewa dewa dari langit. Hal itu terjadi karena dorongan kebutuhan Religi, karena memandang pencipta ada diatas sana, karena seringnya melihat ke langit, beberapa kepala kepala yang berisi otak dan kecerdasan mulai berfikir tentang hubungan langit dengan gejela alam yang terjadi di permukaan bumi, dari musim, pelayaran hingga bencana alam. Karena kesimpulan kadang tidak mencukupi untuk menghadapi tantangan nyata kehidupan yang keras, nenek moyang kita yang cerdas itu mulai berhitung, mengamati simetri dan persamaan persamaan matimatik, mengamati dan mencatat gejela alam yang bersifat teratur, seperti musim, pasang surut dan letusan gunung berapi.

Perhitungan kemudian lebih banyak diarahkan kelangit, tempat para dewa dewa bersemanyam, perhitungan itu kemudian melahirkan penanggalan, jarak antar bintang, penamaan rasi rasi dilangit biru.

Jadi pengatahuan astronomi ini murni karena manusia sejak zaman dulu memang dianugerahi kecerdasan bukan karena diajarkan oleh allien......

No comments:

RESPONSIVE THEME

RESPONSIVE THEME
This theme is working 90% more speed on mobile